JAKARTA—Sebuah keputusan penting mengguncang badan dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Adalah Amerika Serikat sebagai pemegang hak veto dan juga salah satu pendonor terbesar memutuskan keluar dari  UNESCO (Badang PBB untuk   Budaya dan Pendidikan) mulai 31 Desember mendatang. Pernyataan keluar disampaikan  Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan pada Kamis atau Jumat (13/10/2017) WIB pagi.

"Memutuskan ini  bukan perkara mudah  yang juga  mencerminkan kekhawatiran AS akan meningkatnya tunggakan di UNESCO, kebutuhan akan reformasi mendasar dalam organisasi tersebut, dan melanjutkan bias anti-Israel di UNESCO," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert seperti dikutip dari  Reuters.

Meski begitu, AS tetap akan terlibat sebagai non-anggota. Terutama untuk memberikan pandangan, perspektif, dan keahlian yang dipunya. AS merupakan penyumbang seperlima pendanaan UNESCO dengan sumbangan 80 juta dolar setiap tahunnya.

Keputusan menarik diri AS ini menjadi pukulan telak bagi organisasi yang bermarkas di Paris itu. Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova menyatakan kecewa atas keputusan AS itu karena saat ini  beragam konflik terus mengoyak masyarakat di seluruh dunia, "sangat disayangkan bahwa Amerika Serikat mengundurkan diri dari badan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mendorong pendidikan untuk perdamaian dan melindungi kebudayaan yang terancam."

Irina mengatakan, keputusan AS mundur dari UNESCO ini merupakan kehilangan bagi keanggotaan PBB. Apalagi UNESCO sedang berada dalam proses untuk memilih kepala baru, yang prioritasnya akan berupa menghidupkan kembali berbagai kekayaan organisasi itu.

Keputusan AS ini mendapat pujian dari Perdana Menteri Israel dan menyatakan negaranya akan mengkuti langkah sekutunya itu.

Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan AS tersebut sebagai keputusan berani dan bermoral.

Lewat akun Twitternya, Netanyahu mengaku telah menginstruksikan kementerian luar negerinya untuk mempersiapkan penarikan Israel sejalan dengan sekutu terkuatnya negara zionis itu.   

Keputusan  keluar keduanya dipicu menyusul kritik mereka atas  serangkaian keputusan Unesco. Langkah drastis itu sudah mulai terasa saaat AS  pada tahun 2011 memutuskan pengurangan bantuan keuangan, menyusul  putusan Unesco memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina.