BREAKINGNEWS.CO.ID - Seorang sopir truk pengangkut sapi bernama Muhamad Ali Ridho terpaksa berurusan dengan hukum karena menyebabkan orang lain meninggal dunia.

Adalah seorang anggota Korps Bhayangkara bernama Brigadir Muhamad Sahri yang jadi korban. Sopir telah ditahan dan ditetapkan jadi tersangka.

Si sopir ditahan di Markas Polres Metro Jakarta Selatan. Si sopir ditahan karena pasal yang disangkakan padanya adalah kurungan enam tahun.

"Tersangka melanggar Pasal 287 ayat (2) junto 106 ayat (4) huruf C dan Pasal 310 ayat (4) UU RI nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan," ucap Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Polisi Lilik Sumardi saat dikonfirmasi, Selasa 13 Agustus 2019.

Usut punya usut, kejadian ini terjadi karena si sopir lalai tak memberikan tanda saat hendak menurunkan sapi. Kejadian terjadi di Jalan Terogong Raya depan lapak hewan kurban Syar'i wilayah Cilandak Jakarta Selatan, Sabtu 10 Agustus 2019 lalu.

Truk Mitsubishi Colt dengan nomor polisi B-9590-VD yang di kendarai si sopir saat itu melaju dari arah utara menuju ke selatan dijalan Terogong Raya, Cilandak, Jakarta Selatan. Setibanya di depan lapak hewan kurban Syar'i, si sopir pun berhenti di kiri jalan untuk menurunkan hewan-hewan kurban, namun tidak memakai tanda saat itu.

"Bersamaan itu datang korban dari arah belakangnya dengan mengendarai sepeda motor jenis Yamaha Xeon dengan nomor polisi B-3125-SHR yang kemudian menabrak bagian belakang sebelah kanan kendaraan truk. Terjadilah kecelakaan lalulintas yang mengakibatkan korban luka dan kerusakan kendaraan," kata dia.

Akibat hal itu, korban pun mengalami luka pada bagian hidung, mulut, kaki kiri dan kanan sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati. Namun, nasib berkata lain, korban meninggal dunia meski sempat dapat pertolongan sehingga tak bisa merayakan Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah dengan keluarganya.

Luka pendarahan di otak yang membuat nyawa korban tak lagi bisa diselamatkan. Lilik menampik kalau saat kejadian, korbanlah yang memacu sepeda motornya terlalu cepat hingga akhirnya menabrak dan kecelakaan.

Kata Lilik, saat kejadian korban hanya memacu kendaraannya sekira 20 sampai 30 km perjam. Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan kecepatan yang telah dilakukan polisi serta olah Tempat Kejadian Perkara.

"Gak mungkin lah ya. Di arteri mana ada kecepatan 100 km perjam, gak ada itu lah," ujarnya.

 Lebih lanjut dia menjelaskan soal pemasangan rambu berupa segitiga darurat bila roda empat berhenti melakukan sesuatu. Dia menegaskan apabila ada urusan di badan jalan, maka si pengendara wajib memasang segitiga darurat agar tidak membahayakan pengendara lain.

Dia mengatakan dalam kasus ini masih terbuka pintu menyelesaikan kasus secara damai. Mengingat kecelakaan lalu lintas itu unsur tidak sengajanya dominan.

Tapi, semua tergantung bagaimana kedua belah pihak. Hingga saat ini sendiri belum ada tanda-tanda kasus akan diselesaikan secara kekeluargaan.

"Suatu kendaraan berhenti di jalanan itu tanda-tanda kelengkapan itu harus ada dong. Kecuali bukan di badan jalan. Darurat itu segitiga bisa, pecah ban. Kalau umpamanya dia parkir di badan jalan, apalagi malam hari wajib mengamankan diri dia, wajib mengamankan orang lain," ujar Lilik menyudahi.