BREAKINGNEWS.CO.ID -  Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali turun ke bawah level psikologis dipicu aksi ambil untung. Pada akhir perdagangan Selasa (24/3/2020),  indeks ditutup melemah 51,89 poin atau 1,3 persen ke posisi 3.937,63. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 16,58 poin atau 2,84 persen menjadi 566,83.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama  mengatakan, penguatan IHSG pada awal sesi perdagangan telah mendapatkan efek domino ekonomi yang positif dari penguatan bursa di regional Asia, serta penguatan beberapa indeks futures.

Penguatan tersebut dipengaruhi oleh katalis positif dari menguatnya harga minyak dunia, disertai dengan adanya potensi kerja sama antara AS dengan Arab Saudi dalam rangka menstabilkan harga minyak dunia.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengapresiasi pidato Presiden AS Donald Trump yang berkomitmen untuk mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus untuk menghadapi efek negatif penyebaran COVID-19 di sektor pasar finansial. "Meskipun demikian, aksi ambil untung serta perkembangan penyebaran COVID-19 secara agresif, menyebabkan IHSG ditutup di zona negatif," ujar Nafan.

Dibuka melemah, IHSG langsung berbalik menguat pada awal-awal perdagangan namun selang 1,5 jam indeks kembali terkoreksi dan terus berada di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Secara sektoral, delapan sektor terkoreksi dimana sektor aneka industri turun paling dalam yaitu minus 4,57 persen, diikuti sektor properti dan sektor infrastruktur masing-masing minus 2,92 persen dan minus 2,1 persen.

Sedangkan dua sektor naik yaitu sektor pertambangan dan sektor pertanian masing-masing 3,64 persen dan 1,06 persen

Rupiah Stabil

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berterima kasih kepada para eksportir yang turut mendorong penguatan nilai tukar rupiah dan bergerak stabil di pasar valas. “Terima kasih kepada eksportir yang sudah memasok dolar ke pasar valas sehingga hari ini nilai tukar bergerak stabil di pasar valas,” katanya

Menurut dia, bank sentral mencermati penawaran dan permintaan sudah berjalan baik di pasar valas sehingga mendorong nilai tukar rupiah diklaim cukup stabil. “Kami pastikan BI terus berada di pasar, memantau secara baik, dan mengintervensi atau stabilisasi nilai tukar yang diperlukan,” imbuhnya.

BI, kata dia, salah satunya melakukan tiga intervensi dalam stablisasi nilai tukar rupiah di antaranya melalui pasar tunai atau spot, Domestik Non Deliverable Forward (DNDF) dan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Untuk SBN, bank sentral itu membeli SBN yang dilepas oleh investor asing di pasar sekunder Rp168 triliun untuk menginjeksi likuiditas di pasar keuangan dan perbankan. Selain itu, BI juga memutuskan menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen.