BREAKINGNEWS.CO.ID-Lalu Muhammad Zohri, atlet muda Indonesia yang mengguncang dunia dari keberhasilannya menjuarai nomor lari 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Selasa (17/7/2018) ini tiba kembali di tanah air. Zohri dijadwalkan tiba di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sekitar pukul 22.30 WIB. Proses penyambutan Zohri, menurut rencana, akan dilakukan secara sederhana. Tak ada ritual mewah yang digelar demi menyambut Zohri.

"Kami akan buat sesingkat dan sederhana mungkin," ujar Tigor Tandjung, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

Tigor Tandjung menjelaskan, Zohri sudah terlalu lelah dalam perjalanan, sehingga tak perlu dilakukan upacara penyambutan yang mewah. Penerbangan panjang dari Finlandia yang mencapai 16 atau 17 jam memang melelahkan. "Maksimal penyambutan Zohri cuma 30 menit. Sampai, langsung istirahat dan latihan lagi," kata Tigor Tandjung.

Wakil Indonesia di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 ini sebenarnya tidak hanya Zohri. PB PASI menurunkan dua atletnya di kejuaraan tahunan IAAF World U20 Championship ini, satunya adalah Halomoan Edwin Binsar, yang berkompetisi di lari gawang 110 meter. Namun, Halomoan yang datang dengan catatan terbaik 14.14 dt di musim ini, tidak seberuntung Zohri.

Pada Rabu (11/7) malam, di hari kedua kejuaraan, bersaing dengan tujuh sprinter lainnya enam negara, Zohri yang sama sekali tidak diperhitungkan dan ditempatan di lintasan delapan-yang khusus ditempati pelari dengan catatan waktu 'terburuk' di babak semifinal- Zohri membuat kejutan besar dengan menapakkan kakinya paling cepat di garis finis!

Sekadar mengingatkan kembali, Zohri tiba lebih dulu di finis dengan catatan waktu 10.18 detik. Zohri menyengat dua sprinter Amerika Serikat yang difavoritkan sejak awal, yakni Anthony Scwartz dan Eric Harrison, yang sama-sama mencatat 10.22 dt. Catatan waktu Zohri lebih baik 0.04 detik dibanding Schwartz dan Harrison. Bahkan jauh lebih dibanding best-timenya di musim ini, yakni 10.25 dt. Sprinter lain yang diunggulinnya di Tampere ini adalah Thembo Monareng (Afsel/10.23 dt), Dominic ASshwell (Inggris/10.25 dt), Henrik Larsson(Swdia/10.28 dt), Michael Stephens (Jamaika/10.31 dt), dan Daisuke Miyamoto (Jepang/10.43 dt).

Di Indonesia, keesokan harinya, Kamis (12/7), keberhasilan Zohri sudah langsung menjadi 'viral' di Indonesia. Interaksi penampilan pelari asal Mataram, NTB, yang 1 Juli lalu tepat berusia 18 tahun itu di youtube semakin memperkuat brand Zohri sebagai pahlawan bangsa. Namanya sudah menjadi buah bibir dalam rapat koordinasi (rakor) terkait Asian Games XVIII/2018 yang Kamis pagi itu digelar di kantor Menko PMK.

Puan Maharani, Menko PMK, serta Menpora Imam Nahrawi dan jajaran petinggi olahraga lainnya saat itu sama-sama mengapresiasi sukses Zohri dengan menyebut bahwa pemerintah akan memberi penghargaan secara khusus kepada Zohri dan karenanya akan dilakukan penyambutan besar-besaran pada waktu kepulangannya ke Indonesia.

Presiden Joko Widodo kemudian menyatakan bahwa pencapaian Lalu Muhammad Zohri yang luar biasa, dan pemerintah layak memberikannya penghargaan. Lebih dari pada itu Jokowi mengharapkan penampilan luar biasa remaja dari keluarga tidak mampu --kedua orangtua Zohri sudah lama meninggal- tersebut bisa menjadi stimulan bagi atlet-atlet Indonesia lainnya. Secara khusus Jokowi juga mengkitkan sukses Zohri dengan proyeksi penampilan atlet-atlet Indonesia di Asian Games XVIII/2018. "Apa yang dicapai Zohri membuktikan bahwa atlet Indonesia juga bisa berprestasi tingkat dunia," demikian antara lain dikemukakak Jokowi.

Dalam rencana semula, penyambutan Lalu Muhammad Zohri saat tiba di bandara Soetta, Cengkareng, Selasa malam ini memang akan dilakukan secara besar-besaran. Menpora Imam Nahrawi akan langsung datang menjemput. Sejumlah anggota dewa yang terhormat juga sudah menyatakan kesediaanya untuk turut hadir di bandara. Beberapa tokoh masyarakat juga menyebut akan datang.

Namun, rencana penjemputan Zohri dengan ritual sebagaimana yang biasa dilakukan saat menyambut kepulangan tim olahraga Indonesia dari keikutsertaannya di pentas global dengan prestasi mengesankan, yang membuat lagu Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah Putih berkibar, ini tiba-tiba berubah. Ini karena belakangan Zohri diketahui tidak menggunakan bendera Merah Putih saatr dia berlari untuk merayakan keberhasilannya merebut medali emas di lari 100 meter yang sangat bergengsi tersebut.