BREAKINGNEWS.CO.ID – Yusuf Ihza Mahendra menegaskan bahwa permintaan pembebasan oleh Presiden Jokowi untuk membebaskan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir tidak ada kaitannya dengan urusan politik. Keputusan itu  murni atas alasan kemanusiaan serta penghormatan kepada seorang ulama.

“Saya perlu jelaskan bahwa pembebasan bersyarat untuk Abu Bakar Ba’asyir tersebut baru bisa dilakukan pada tanggal 13 Desember 2018, sebelum tanggal itu terpidana belum bisa dibebaskan. Jadi kalau dibebaskan ditanggal itu pun, kan itu juga sudah bertepatan dengan kampaye juga. Jadi ini bukan kebetulan, namun memang perhitungan tanggalnya seperti itu,” kata Yusril kepada wartawan di The Low Offfice Mehendradatta, Jakakarta Selatan, Sabtu (19/1/2018).

Yusril menambahkan bahwa pertimbangan pembebesan kepada Abu Bakar Ba'asyir tak lain karena alasan kemanusian dan penghormatan kepada ulama, sebab yang bersangkutan pun kondisi kesehatannya sangat memperhatinkan. Selain itu, Presiden juga tidak ingin melihat seorang ulama berlama-lama di dalam penjara. Ini yang menjadi pertimbangan utama Presiden dan tidak ada kaitannya dengan tahun politik saat ini. 

Lebih lanjut Yusril menjelaskan kalau selama ini proses pembebasan terhadap Abu Bakar Ba’asyir sudah dipertimbangkan lama oleh pihak pemerintah, namun masih terkendala berbagai alasan, salah satunya terkait penandatangan persyaratan-persyaratan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Nomor 99 tahun 2012 tentang pemberian hak pembebasan bersyarat terhadap terpidana kejahatan luar biasa yakni Korupsi, Terorisme, Pencucian Uang dan Narkotika dan lain-lainnya.

Yusril pun menyampaikan bahwa sebenarnya hambatan tersebut tidak terlalu rumit jika Abu Bakar Ba’asyir mau menandatangani syarat-syarat yang dilayangkan kepadanya. Penolakan tersebut disebabkan karena Abu Bakar Ba’asyir tidak menyetujui jika dirinya harus patuh pada pancasila. Sebab disebutkan Yusril jika Abu Bakar Ba’asyir mengaku hanya ingin mematuhi perintah Allah dan tidak pada yang lain.

“Hambatannya ialah, Ustad Abu Bakar Ba’asyir tidak mau meneken persyaratan yang diantara lain adalah patuh dan setia pada pancasila. Hal ini yang tidak disetujui oleh beliau dan beliau mengatakan jika saya harus bebas bersyarat dengan menandatangi setia pada pancasila ya saya tidak akan menandatangani itu. Sebab saya hanya setia kepada Allah, saya hanya patuh kepada Allah dan saya tidak akan patuh selain dari pada itu,” kata Yuzril menirukan perkataan Abu Bakar Ba’asyir.

“Saya juga sudah jelaskan bahwa pancasila inikan asas negara kita, dan kalau ditafsir dalam ajar Islam, itu sejalan. Namun beliau mengatakan kalau memang sejalan dengan Islam, kenapa tidak patuh aja sama Islamnya. Saya paham dengan jalan pikiran Ustad Abu Bakar dan saya juga tidak mau berdebat dengan beliau,”ungkapnya. 

“Dari hasil itu saya sampaikan kepada pak Jokowi di Jakarta Teater menjelang depat calon Presiden pertama kemarin. Setelah saya sampaikan hal tersebut, saya pun memberi masukan kepada Presiden untuk mencari jalan keluarnya mengingat usia yang lanjut dan kesehatan yang dideritanya, dan beliau pun setujuh dan memerintahakan saya untuk berkoordinasi dengan Kapolri dan Menteri Hukum dan HAM untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir dengan memperlunak syarat-syarat tersebut dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden untuk bebas tanpa syarat,”cerita Yuzril saat membicarakan proses pembebasan Abu Bakar Ba’asyir bersama Presiden Jokowi.