JAKARTA – Masyarakat mungkin banyak yang belum mengetahui, bahwa sepanjang bulan Maret setiap tahunnya di peringati sebagai Bulan Kesadaran Kanker Kolorektal. Dan banyak juga yang tidak mengetahui apa itu kanker kolorektal. Untuk itu Yayasan Kanker Indonesia bekerjasama dengan perusahaan farmasi, sains dan teknologi, Merck menggelar diskusi mengenai hal itu, dengan mengangkat tema ‘Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat’.

Acara yang diadakan di kantor pusat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) pada Selasa (3/4/2018) di kawasan Menteng, Jakarta ini untuk mengedukasi masyarakat tentang kanker kolorektal dan pentingnya deteksi dini. Pembicara yang hadir adalah para pakar mengenai kanker kolorektal itu sendiri, dari YKI diwakili oleh Dr. Aditya G. Parengkuan, M. Biomed yang merupakan Koordinator Indonesian Ostomy Association YKI dan Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP, FINASIM selaku Ketua Umum YKI.

Ada juga dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM serta perwakilan dari Merck, dr. Risa Anwar. Tidak hanya pakar saja, dua orang yang merupakan survival yaitu Albert Sompie dan Umbu Tanggela yang membagikan pengalamannya sebagai orang yang terkena kanker kolorektal.

Selain ingin memberikan edukasi, YKI ingin mengajak semua pihak baik pemerintah maupun swasta untuk bisa memproduksi sendiri di Indonesia ataupun mempermudah bagi penderita kanker kolorektal mendapatkan kantong stoma dengan harga yang lebih terjangkau.

Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Aditya G. Parengkuan, M. Biomed selaku Koordinator Indonesian Ostomy Association YKI. Beliau mengatakan bahwa kantong stoma yang merupakan barang penting untuk penderita kanker kolorektal belum bisa di produksi di Indonesia, dan masih didatangkan dari luar. “Kantongnya itu belum bisa di produksi di Indonesia. Jadi masih didatangkan, memang itu produksi dari luar semua. Saya ngga tahu dari mana saja, tapi itu dari luar semua”, ungkap Dr. Aditya.

Beliau juga menambahkan perlu adanya mediasi atau kegiatan advokasi dari para ostomates bersama pemerintah terkait hal ini. Karena harga kantong stoma yang beredar saat ini terbilang sangat mahal, dengan harga per dus dengan isi 10 kantong stoma dijual pada harga 500 ribu hingga 600 ribu rupiah. Yang memberatkan para penderita kanker kolorektal karena kantong ini tidak bisa dijual /pieces atau diketeng.

Sedangkan dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM menerangkan tentang pasien yang menderita kanker kolorektal ini ada yang memang permanen atau seumur hidup menggunakan kantong stoma, namun ada juga yang sementara setelah penderita kanker melakukan pengobatan lanjutan pasca operasi lalu ususnya bisa disambungkan kembali.

Sedangkan Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP, FINASIM selaku Ketua Umum YKI menjelaskan tentang banyaknya penderita kanker karena faktor seseorang malas untuk bergerak dalam kesehariannya. Termasuk faktor obesitas karena gaya hidup atau lifestyle seseorang yang membuatnya memiliki resiko tinggi menderita kanker.

Beliau juga menambahkan jika seseorang mengalami pendarahan dalam anusnya, seorang dokter harus mencari tahu sumber permasalahannya. Menurutnya 85 persen dari hal tersebut seorang pasien menderita ambeien namun yang 15 persen bisa beresiko lainnya termasuk kanker.

Untuk itu, perusahaan farmasi terbesar dan tertua di dunia Merck sejak awal hingga sekarang berusia 350 tahun terus melakukan riset, pengembangan dan inovasi untuk menghasilkan produk-produk demi memenuhi kebutuhan pasien. Karena di bidang kedokteran banyak sekali hal yang berkembang dan kebutuhan pasien terus meningkat, dengan semakin canggihnya teknologi saat ini. Sehingga penyakit semakin mudah di diagnosa, salah satunya di bidang  kanker, seperti yang diungkapkan dr. Risa Anwar selaku Medical Director PT Merck Tbk. pada Selasa (3/4/2018).

Risa Anwar juga menambahkan bahwa hal itu juga yang membuat perusahaan farmasi ini bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) sejak tahun lalu, untuk menyebarluaskan tentang kanker kolorektal kepada masyarakat. Karena kanker ini bisa dicegah dan di diagnosa sejak dini. Para narasumber yang hadir ingin mengajak serta media untuk bersama-sama menyebarkan mengenai kanker kolorektal. Baik mengenai penyakitnya maupun kebutuhan pasien akan kantong stoma.