BREAKINGNEWS.CO.ID- Partai Golkar mendorong perubahan sistem pemilihan umum (pemilu). Ketua DPP Partai Golkar Yahya Zaini mengatakan, sistem pemilu yang diselenggarakan secara serentak saat ini atau pada pemilu 2019 lalu dengan sistem proporsional terbuka lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Meskipun secara penyelenggaraannya berhasil dan diakui dunia.
 
“Memang partispasi masyarakat luar biasa meningkat, tapi juga menyisahkan dampak-dampak negatif antara lain misanya budaya pragmatisme politik yang sangat transaksional, menyertai pemilu kita. Nah ini harus kita evaluasi,” kata Yahya Zaini saat diskusi politik bertajuk ‘Pemilu 2019, Evaluasi dan Solusi, di Jakarta, Kamis (24/10/2019).
 
Oleh karena itu, Anggota DPR RI ini memastikan akan mendorong revisi UU Pemilu untuk mengubah terkait sistem pemilu. Dia mengaku, saat ini ada wacana pemilu 2024 dilakukan secara terpisah. Namun penafsiran terkait pemisahan pemilu tersebut masih belum jelas. Ada opsi pemisahan pemilu antara daerah dan pusat serta pemisahan pemilu legislatif dan pemilihan presiden-wakil presiden.
 
“Desain pemilu tahun 2024 sperti apa, kalau misalnya skenarionya dipisah lalu pemisahannya seperti apa. Supaya tidak melanggar konstitusi,” ujar dia.
 
Sementara itu, terkait opsi proporsional terbuka atau tertutup, Yahya Zaini Golkar mengatakan akan mendorong sistem pemilu campuran. Sistem tertutup diperuntukan bagi pekerja partai namun kesulitan modal. Sementara sistem terbuka bagi tokoh populer.
 
"Kami belum membahas berapa persen pembagiannya. Ini masih terus didiskusikan untuk mendapatkan formulasi yang terbaik," ujar Yahya.
 
Dia menegaskan Golkar akan menginisiasi agar segera merevisi UU Pemilu. Jangan menunggu menjelang pemilu baru dilakukan revisi.
 
"Tahun depan kita sudah mulai dorong ini. Supaya banyak waktu dalam membahasnya," tutup Yahya