JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa menghabiskan banyak waktu bermain game atau kecanduan game telah menjadi salah satu penyebab utama munculnya masalah kesehatan mental baru.

Seperti dilansir dari USA Today, Senin (18/6/2018), Dr Shekhar Saxena, Direktur departemen kesehatan mental dan penyalahgunaan zat di WHO, mengatakan "kecanduan game" harus terdaftar sebagai masalah baru berdasarkan bukti ilmiah, di samping kebutuhan dan permintaan untuk perawatan masalah ini di banyak belahan dunia.

Di sisi lain, masyarakat menyambut positif keputusan WHO, dan menilai penting untuk mengidentifikasi orang-orang yang kecanduan pada permainan video karena mereka biasanya remaja atau orang dewasa muda yang tidak mencari bantuan sendiri.

Dr. Henrietta Bowden-Jones, juru bicara masalah kecanduan perilaku dari Britain's Royal College of Psychiatrists mengatakan cara terbaik mengobati kecanduan permainan biasanya dengan terapi psikologis, tetapi beberapa obat mungkin juga berhasil.

Sementara itu, Dr. Mark Griffiths, yang telah meneliti konsep gangguan permainan video selama 30 tahun, menuturkan klasifikasi baru WHO akan membantu melegitimasi masalah dan memperkuat strategi pengobatan.

"Video game seperti judi dari sudut pandang psikologis. Penjudi menggunakan uang sebagai cara menjaga skor sedangkan pemain menggunakan poin," ujar dia yang merupakan seorang profesor untuk masalah kecanduan perilaku di Nottingham Trent University itu. 

Dia menduga bahwa persentase pemain video game yang memiliki masalah kompulsif cenderung sangat kecil - kurang dari 1 persen - dan banyak orang seperti itu kemungkinan akan memiliki masalah mendasar seperti depresi, gangguan bipolar atau autisme.

Griffiths mengatakan bermain video game, bagi sebagian besar orang, lebih sekedar hiburan. 

"Orang-orang banyak bermain tetapi itu bukan kecanduan," kata dia. Orang tua dan masyarakat harus menyadari masalah yang berpotensi membahayakan.

"Jika (video game) mengganggu fungsi yang diharapkan dari orang tersebut - apakah itu kegiatan studi, sosialisasi, - maka Anda perlu berhati-hati dan mungkin mencari bantuan," tutur Saxena.

Sementara itu beberapa bulan yang lalu Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan video game berhubungan dengan kekerasan yang terjadi dunia nyata.

Hal itu disampaikan Trump di hadapan jajaran pimpinan industri game, pada Kamis (8/3/2018), sebulan berselang setelah peristiwa penembakan di lingkungan sekolah yang memicu kembali perdebatan tentang izin kepemilikan senjata api.

Trump menggelar pertemuan dengan asosiasi pengembang hiburan virtual, Entertaintment Software Association (ESA), kurang dari sebulan setelah seorang pria bersenjata menembak 17 orang hingga tewas, menggunakan senjata semi-otomatis, di bekas sekolahnya di Florida, dikutip dari AFP.

Trump segera menuding video game sebagai faktor penyebab terjadinya kekerasan menggunakan senjata api tersebut, yang merupakan insiden terakhir dari sekira 30.000 kasus kematian terkait penggunaan senjata tiap tahunnya.

Menurut pernyataan dari Gedung Putih, Trump dalam pernyataan tersebut menyatakan "mengakui beberapa penelitian mengindikasikan ada korelasi antara kekerasan video game dan kekerasan nyata".

"Pembicaraan berpusat pada apakah video game yang mengandung unsur kekerasan, termasuk permainan yang secara grafis mensimulasikan pembunuhan, membuat masyarakat kita cenderung permisif terhadap kekerasan."

Setelah penembakan di Florida, Trump mengatakan dia "mendengar semakin banyak orang mengatakan tingkat kekerasan pada video game benar-benar membentuk pemikiran orang muda".  ESA membantah anggapan tersebut, bahwa video game tidak menyebabkan kekerasan di dunia nyata.

"Video game jelas tidak menjadi masalah: hiburan didistribusikan dan dikonsumsi secara global, tetapi AS memiliki tingkat kekerasan senjata yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain," katanya menjelang perundingan Washington.