BOYOLALI - Warga di Boyolali terpaksa antre untuk mendapatkan gas berukuran 3 kilogram. Hal tersebut dikarenakan gas melon tersebut mengalami kelangkaan. Sejumlah pangkalan maupun pengecer mengaku jatah pasokan gas saat ini dikurangi. "Jatah dari agen dibatasi. Biasanya saya mendapat 20 tabung setiap kali turun, tapi sejak 2 pekan ini hanya diberi 10 tabung saja," ungkap Rokhati (45) seorang pedagang kelontong, Kamis (7/12/2017).

Warga yang akan membeli gas Elpiji 3 kg kini juga diminta menyerahkan foto kopi kartu keluaga (KK). Menurut dia, itu merupakan aturan baru yang disampaikan agen. "Memang aturan dari agen seperti ini. Kalau tak membawa foto copi KK, kami tidak akan memberi," katanya.

Pengecer lainnya di Desa Canden, Sunsat M (40), mengatakan kelangkaan gas Elpiji 3 kg sudah terjadi sejak sekitar 2 pekan lalu. Dia mengaku tak mengetahui secara pasti penyebab dikuranginya pasokan gas melon ke pangkalan maupun pengecer itu. "Setiap hari saya bisa menjual 10 sampai 15 tabung. Tapi ya mau bagaimana lagi, sekarang tak ada barangnya," jelas dia.

Pengurangan jatah pasokan juga dialami pengecer di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Haryanto, pemilik warung di Desa Jelok mengaku, jatah gas Elpiji 3 kg dikurangi separuh. Yang biasanya mendapatkan 20 tabung, kini hanya 10 tabung. Terbatasnya pasokan gal Elpiji bersubsidi itu membuat masyarakat kesulitan mendapatkannya. Warga pun harus menunggu pasokan dari agen ke pangkalan maupun pengecer, saat gas yang digunakannya memasak itu habis. Pasalnya, di pangkalan maupun pengecer kehabisan stok.

Kondisi ini juga dialami warga di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali. Sejumlah warung kehabisan stok. Bahkan, ketika pasokan datang, gas bisa langsung habis dalam satu sampai dua hari saja. Dampak lain, harga gas melon itu kini juga melambung tinggi. Meski harganya bervariasi di setiap daerah. Di Desa Beji, Kecamatan Andong harga Elpiji 3 kg mencapai Rp 22 ribu per tabung di tingkat pengecer.

"Harganya mencapai Rp 22 ribu per tabung," kata Gunawan, warga Desa Beji, Kecamatan Andong.

Untuk menyiasati kelangkaan itu, sebagian warga pun kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak. Namun itu bagi yang memiliki persediaan kayu bakar, mereka tidak bingung.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Boyolali, Suyitno, mengaku belum mendapat laporan mengenai kelangkaan Elpiji 3 kg ini. Meski demikian, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pertamina.

Menurut Suyitno, jatah Elpiji 3 kg untuk Kabupaten Boyolali sudah disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga masyarakat miskin. Tahun 2017 ini, Boyolali mendapatkan jatah sebanyak 9.106.128 tabung. Namun, ternyata banyak orang yang sebenarnya mampu juga menggunakan gas bersubsidi itu untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

"Gas Elpiji yang semestinya hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, juga digunakan untuk keperluan pertanian dan peternakan. Padahal jatahnya tetap. Kalau tepat sasaran, tak mungkin masyarakat kesulitan mendapatkan gas 3 kg," ujar Suyitno.