Trenggalek - Wakil Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin meluncurkan buku berjudul " Bung Karno 'Menerjemahkan' Al-Quran ". Buku itu dikerjakan sepanjang dua th. di dalam kesibukannya sebagai wakil bupati.

" Inspirasi buku ini sebenarnya bermula dari banyak dikotomi nasionalis serta agamis. Lalu saya belajar, apa iya bila nasionalis itu tidak agamis, bila agamis tidak nasionalis, jawabannya nyatanya tidak, " tuturnya, Kamis (1/6/2017).

Dalam bukunya, Arifin mengakui bercerita mengenai beberapa hal tentang kehidupan dan pemikiran-pemikiran Soekarno yang lekat dengan segi nasionalisme serta keagamaan. Satu diantara misalnya, Bung Karno kerap menukil ayat-ayat suci Alquran dalam beragam pidatonya didalam ataupun luar negeri.

" Banyak literatur serta sumber yang saya gali, nyatanya pada religus serta nasionalis iu dapat lebur serta menyatu, seperti yang dikerjakan oleh Bung Karno, " katanya.

Menurut dia, apa yang dikerjakan 'founding father' Indonesia itu semestinya jadi contoh untuk orang-orang dalam kehidupan bernegara. Bukanlah malah memisahkan pada nasionalis serta religius seperti yang berlangsung pada akhir-akhir ini.

Ia mengakui berniat pilih Soekarno karna adalah satu diantara tokoh yg tidak dapat dilepaskan demikian saja dengan bangsa Indonesia. Beragam perjuangan serta peristiwa utama bangsa banyak yang mempunyai keterikatan dengan Bung Karno.

" Mengapa saya pilih judul Bung Karno 'Menerjemahkan' Al-Quran, bukanlah bermakna dia sebagai mufasir (pakar tafsir), namun lebih karna beberapa hal baik yang dia kerjakan ini yaitu salah bentuk dari menerjemahkan Alquran itu, " tuturnya.

Tetapi di segi lain, wakil bupati termuda ini mengaku Presiden RI pertama itu bukanlah sosok prima, karna sebagai manusia umum, banyak beberapa hal yang dinilai salah. " Kekeliruan serta kekurangan tersebut yang perlu jadi pelajaran untuk kita semuanya supaya dibenahi serta tidak ditiru, " tambah Arifin.

Pihaknya mengharapkan, buku yang diterbitkan oleh Mizan itu dapat jadi satu diantara suntikan penyadaran untuk anak bangsa mengenai tingginya nilai kebangsaan serta keislaman. Ke-2 hal itu dinilai dapat jadi satu diantara alat untuk memperkokoh bangsa Indonesia.

" Jangan pernah ada de-Seokarnoisasi, oleh karena itu pintu yang bakal dipakai untuk menistakan Indonesia, " tuturnya.

Dalam sistem pembuatan buku perdananya itu, Arifin mengakui menjumpai beberapa masalah, bahkan juga satu diantara Gus (kyai muda) menentang keras terbitnya buku itu. " Saya mengapresiasi pandangan beliau sebagai kritikus serta itu juga saya katakan dalam pengantar, " tandasnya.