BREAKINGNEWS.CO.ID -Kasus dugaan penganiayaan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah diperiksa polisi. Pihak Pemerintah Provinsi Papua meminta pemeriksaan dipertimbangkan dilakukan di Papua lantaran jumlah pihak Pemprov Papua yang akan dimintai keterangan oleh polisi mencapai 20 orang, sehingga ditakutkan mengganggu aktivitas pelayanan bagi masyarakat jika harus bolak-balik Papua-Jakarta.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengungkapkan, bisa tidaknya hal itu tergantung wewenang penyidik. "Semuanya tergantung di penyidik. Penyidik nanti akan lebih paham, lebih mengetahui seperti apa teknisnya. Kami kembalikan ke penyidik," ujar Argo saat dikonfirmasi, Selasa (12/2/2019).

Dalam kasus ini penyidik telah memeriksa 10 orang saksi dalam kasus dugaan penganiayaan yang menimpa pegawai KPK bernama Muhammad Gilang Wicaksono. Para saksi yang diperiksa adalah orang-orang yang mengetahui, melihat, dan mendengar kejadian tersebut di Hotel Borobudur, Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Sabtu 2 Februari 2019 malam lalu.

"Ada pegawai, dokter, juga ada karyawan (Hotel) Borobudur dan sebagainya," kata Argo.

Seperti diberitakan, kuasa hukum Pemprov Papua, Stefanus Roy Rening minta pemeriksaan dilakukan di Jayapura, Papua saat mendatangi Polda Metro Jaya pada Senin 11 Februari 2019. Hal tersebut, karena setidaknya ada 20 orang yang mendampingi Gubernur Papua saat kejadian, sehingga akan memakan waktu lama jika satu per satu terbang ke Jakarta.

"Maka, tadi saya mengusulkan, agar penyidik mempertimbangkan  penyidikan terhadap saksi-saksi itu di Jayapura," ujarnya.

Gilang adalah orang yang diduga dipukul saat sedang mengambil foto aktivitas rapat antara Pemprov Papua dengan Anggota DPRD Papua, di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, 2 Februari 2019 malam.

Usai sesi pemotretan, sejumlah orang dari Pemprov Papua datang menghampiri Gilang karena tidak terima difoto. Mereka sempat menanyakan identitas Gilang. Meski sudah mengetahui Gilang pegawai KPK, namun mereka tetap 'menghujani' bogem mentah.

Akibatnya, wajah Gilang mengalami luka memar dan sobek. Korban lantas melapor ke Polda Metro Jaya, Minggu, 3 Februari 2019.

Pasca kejadian, pihak Pemprov Papua melaporkan balik pegawai KPK itu atas tuduhan pencemaran nama baik. Sebab, di dalam HP pegawai KPK yang sempat diperiksa pihak pemprov, terdapat pesan jika salah satu pejabat ada yang akan melakukan tindak suap.

"Isi pesan WhatsApp terlapor sempat dibaca. Ada kata-kata yang berisi akan ada penyuapan yang dilakukan Pemprov Papua. Faktanya tidak ada penyuapan," ujar Argo.

Pihak Pemprov Papua melalui Alexander Kapisa melaporkan kejadian ini, atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik, Senin, 4 Februari 2019. Dia melapor ke Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/716/II/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus.

Polisi menjerat Pasal Tindak Pidana di bidang ITE dan pencemaran nama baik atau fitnah melalui media elektronik Pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 Ayat (3) dan Pasal 35 Jo Pasal 51 Ayat (1) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE.