BREAKINGNEWS.CO.ID - Kita sekarang berada di abad 21, yang merupakan abad informasi atau dapat dikatakan era komputer. Sejak pertama ditemukan, komputer terus berkembang. Kini, ada komputer yang bahkan lebih kecil dari butiran beras. Komputer pertama ditemukan oleh William Oughtred. Tetapi konsep komputer pertama yang mirip dengan komputer modern saat ini ditemukan pada tahun 1833 - 1871 oleh matematikawan Inggris terkenal Charles Babbage.

Seperti dilansir dari Slashgear, Senin (25/6/2018), Peneliti dari University of Michigan kini melahirkan terobosan baru "komputer" terkecil di dunia. Komputer ini hanya memiliki ukuran lebih kecil dari sebutir beras. Terlihat bagaimana teknologi telah mengubah komputer besar yang memenuhi seluruh ruangan pada tahun 1957, kini telah jauh menyusut hanya menjadi seukuran 0,3 mm saja. Sistem komputer sebelumnya, termasuk komputer 2x2x4mm bernama Michigan Micro Mote, mempertahankan pemrograman dan datanya meskipun tidak ada dukungan secara eksternal.

Maksudnya, jika mencabut komputer desktop dari listrik, maka program serta datanya masih ada ketika menyala kembali setelah daya kembali. Sedangkan gawai komputer mikro sebesar 1mm dari IBM yang diperkenalkan Maret lalu dan sekarang yang dari University of Michigan, akan kehilangan semua pemrograman dan data secara segera setelah mereka kehilangan daya listrik.

David Blaauw, profesor di University of Michigan, yang menjadi pemimpin temuan baru ini mengatakan, “Kami tidak yakin apakah komputer mikro ini harus disebut sebagai komputer atau tidak. Gawai tersebut merupakan masalah pendapat apakah mereka memiliki fungsi minimum yang diperlukan.”

Perangkat ini akan dimodifikasi lebih lanjut dengan pendekatan baru untuk desain rangkaian dengan daya rendah yang sama yang akan mampu mentoleransi cahaya. Komponen RAM dan fotovoltaik dari gawai kecil baru ini memiliki pemancar dan penerima nirkabel tanpa sistem antena. Hal ini terkait dengan ukurannya yang sangat kecil.

"Kami pada dasarnya harus menemukan cara-cara baru mengenai pendekatan desain sirkuit yang akan memiliki kekuatan yang sama rendah tetapi juga bisa mentoleransi cahaya," kata Blaauw.

Komputer mikro akan menerima dan mengirimkan data dengan bantuan cahaya. Gawai ini dapat berjalan pada daya yang sangat rendah dan cahaya dari gawai transmisi LED sendiri yang akan mampu membawa arus dalam sirkuit yang sangat kecil.

Dirancang sebagai sensor suhu yang presisi, gawai baru ini mengubah suhu menjadi interval waktu, yang didefinisikan dengan detak elektronik. Interval diukur pada cip terhadap interval waktu stabil yang dikirim oleh base station dan kemudian diubah menjadi ukuran suhu. Hasilnya, komputer dapat melaporkan suhu di wilayah sangat kecil seperti sekelompok sel dengan toleransi kesalahan sekitar 0,1 derajat Celsius.

Sistem ini sangat fleksibel dan dapat ditafsirkan ulang untuk berbagai tujuan, tetapi tim memilih pengukuran suhu yang presisi karena kebutuhan dalam onkologi.

Gary Luker, seorang profesor radiologi dan teknik biomedis yang kerap bekerja sama dengan tim komputasi Michigan, mengatakan dia berencana menggunakan komputer kecil ini dalam penelitian tumornya. Dia mengatakan ingin menggunakan komputer untuk melacak suhu tumor dan mengeksplorasi lebih lanjut teori seputar bagaimana suhu memengaruhi perawatan penyakit kanker.

"Karena sensor suhu kecil dan biokompatibel, kami dapat menanamkannya ke dalam tikus dan sel kanker tumbuh di sekitarnya," kata Luker. "Kami menggunakan sensor suhu ini untuk menyelidiki variasi suhu dalam tumor dibandingkan jaringan normal dan jika kami dapat menggunakan perubahan suhu untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu terapi."

Michigan Micro Mote, mungkin masih dapat dikatakan sebagai komputer terkecil di dunia. Tergantung pada pemahaman orang-orang akan persyaratan minimum sebuah komputer. Gawai yang dirilis pada tahun 2015 tersebut dikatakan dapat diaplikasikan di berbagai keperluan seperti:

- Penginderaan tekanan di dalam mata untuk diagnosis glaukoma
- Studi kanker
- Pemantauan waduk minyak
- Pemantauan proses biokimia
- Pengawasan: audio dan visual
- Studi siput kecil