BREAKINGNEWS.CO.ID - Para pemimpin Uni Eropa menyepakati penyelesaian krisis imigrasi yang melanda Benua Biru pada Jumat (29/6/2018), guna mencegah kegagalan pertemuan tingkat tinggi. Dengan kesepakatan tersebut, beban pemukiman para pengungsi nantinya akan dibagi merata antara negara anggota.

Uni Eropa juga akan berupaya mendirikan pusat imigran di negara-negara di luar Eropa, menurut pernyataan dari Dewan UE. Italia sempat mengancam membatalkan kesepakatan apabila isu imigrasi tidak dibahas, kata seorang diplomat, Jumat (29/6). Pertemuan para pemimpin Eropa yang semula diadakan untuk berfokus pada Brexit justru didominasi permasalahan penanganan imigran yang datang melalui jalur air menuju Eropa.

Sekitar pukul 5:00 waktu Brussels, Jumat, Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk berkicau melalui Twitter bahwa para pemimpin negara telah menyepakati pernyataan bersama dalam KTT EU 28 yang termasuk persoalan imigrasi. Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte menuturkan kesepakatan memakan "negosiasi panjang, tetapi mulai hari ini Italia tidak lagi sendiri."

Dalam pernyataan, Dewan menyatakan sudah sepakat mengadopsi "pendekatan komprehensi terkait migrasi yang mengombinasikan pengendalian lebih efektif pada perbatasan luar UE, peningkatan tindakan eksternal dan aspek internal, sejalan dengan prinsip dan nilai-nilai kami." "Dewan Eropa bertekad melanjutkan dan memperkuat kebijakan ini untuk mencegah kembalinya aliran tak terkendali 2015 lalu dan membendung lebih jauh migrasi ilegal dari seluruh rute yang sudah ada maupun yang baru berkembang."

Selain itu, lebih banyak dukungan akan disediakan untuk Italia dan negara-negara Mediterania lain, dan "upaya untuk menghentikan para penyelundup yang beroperasi di Libya atau di manapun harus diintensifikasikan lebih jauh." Perdana Menteri Inggris, Theresa May memuji kesepakatan itu, mengatakan hal tersebut menyelesaikan banyak masalah yang sebelumnya pernah diangkat Inggris, dan akan "memastikan bahwa orang-orang tak melakukan perjalanan berbahaya itu ... di tangan para penyelundup orang." Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan bahwa, meski ada tanda-tanda kesepakatan "tak mungkin" tercapai, negara-negara anggota telah berhasil mencapai "solusi Eropa."