BREAKINGNEWS.CO.ID - Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi (RB) menyerahkan Piagam Penghargaan atas pengungkapan kasus mafia properti dan penipuan penerimaan CPNS yang diungkap Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya.


Penghargaan itu diserahkan langsung, Menteri PAN dan RB Drs Syafruddin di Aula Kemenpan dihadiri Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat dan perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agragria Tata Ruang (ATR), Kepala BPKP dan Kepala BKN.

Syafruddin menilai pemberian penghargaan kepada anggota Polri karena berprestasi serta mendukung pencapaian reformasi birokrasi di sektor pemerintahan. “Ini kita berikan apresiasi, bagi anggota polri yang berprestasi karena mendukung reformasi birokrasi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Wahyu Hadiningrat menyampaikan ucapan terimakasih atas penganugerahan bagi anggota Polri yang berprestasi.

“Ini adalah penyemangat dalam melayani masyarakat dengan baik,” kata Brigjen Wahyu, Rabu (21/8/2019).

Dikatakan, sebagai aparatur negara salah satu pendukung terwujudnya landasan yang kondusif bagi berjalannya program pemerintah, lebih dari itu ingin menjadi agen reformasi yang makin dipercaya masyarakat.

“Capaian ini bukan karena anggota Polri semata, tetapi karena mekanisme kerjasama, koordinasi, kolaborasi yang aktif lintas stakeholder, juga dukungan masyarakat. Kita bersama sama berkomitmen mengawal MoU Kemenpan RB dan Polri, guna keberlanjutan Reformasi Birokrasi di Indonesia,” ucapnya.

Sebelumnya, Ditreskrimum Polda Metro Jaya Juga mendapat penghargaan dari Kementerian Agraria Tata Ruang (ATR) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil, pada Kamis (8/8) lalu.

Seperti diketahui Ditreskrimum Polda Metro Jaya membekuk 4 tersangka mafia properti dengan modus membeli tanah lewat notaris abal-abal. Mereka ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di kawasan Jakarta Selatan dan Tangerang, pekan lalu.

Dalam aksinya para tersangka, Idham, Sujatmiko, Wiwid dan Arnol menyasar para korban lewat internet yang hendak menjual rumahnya. Mereka mengincar rumah mewah diatas Rp15 miliar. Begitu sepakat kemudian korbannya diarahkan ke komplotannya ke notaris hingga meminta dan meminjan sertifikat rumah korban.

Kemudian sertifikat dipalsukan dan dikembalikan ke korban. Sementara sertifikat asli oleh para tersangka diagunkan atau dijadikan jaminan ke perbankan atau koperasi untuk mendapatkan pinjaman uang tunai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Begitu juga beberapa pekan lalu juga mengungkap penipuan penerimaan CPNS dengan tersangka HB alias Pak Bos. HP meraup Rp3,7 miliar dari puluhan honorer.