BREAKINGNEWS.CO.ID-Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi telah membuat kebijakan baru menyangkut musim Umrah 2018-2019. Yakni, memajukannya 30 hari dari waktu yang ditetapkan selama ini. Hal tersebut dilakukan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi sebagai langkah praktis untuk mengimplementasikan Visi Kerajaan 2030. Kebijakan baru tersebut ditujukan untuk memastikan kedatangan sekitar 30 juta peziarah Umrah setiap tahun.

Seperti dilansir Saudi Gazette, terkait hal itu pihak Kementerian tersebut telah mengumumkan bahwa musim Umrah untuk 2018-2019 telah dimajukan 30 hari untuk dimulai dari waktu yang selama ini lazim. Hal itu dengan memajukan musim umrah dimulai pada bulan Muharram (September) bukannya Safar (Oktober).

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Agama, Jumat (7/9/2018), dengan kebijakan baru tersebut maka untuk tahun ini peziarah Umrah akan mulai tiba di Arab Saudi  sekitar delapan hari dari sekarang. Tepatnya, dari 1 Muharram. Pihak kementrian juga menegaskan akan bekerja dengan Kementerian Luar Negeri untuk mulai menerbitkan visa Umrah kepada para peziarah di misi diplomatik dan konsuler di luar negeri. Diperkirakan akan ada lebih dari tujuh juta peziarah melakukan umrah pada musim umrah kali ini.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Abdul Fattah Mashshat, mengatakan memang ada target bila jamaah umrah terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2022 misalnya akan ada 15 juta jamaah melakukan umrah.Jumlah ini pun ditargetkan akan terus meningkat menjadi sekitar 30 juta pada tahun 2030.

“Kami sekarang melayani 1,8 juta jamaah haji yang datang dari luar. Kami berencana untuk meningkatkan jumlah ini hingga menjadi lima juta pada 2030, ”katanya.

Wakil menteri mengatakan kedatangan para peziarah melalui udara, darat dan laut telah dibuat sangat mudah. Pemrosesan paspor bagi para peziarah sekarang pun sudah hanya akan memakan waktu beberapa menit saja.

“Pada musim haji yang baru saja selesai kami memperkenalkan inisiatif 'Jalan Mekah' di mana para peziarah, terutama dari Malaysia dan Indonesia, memproses prosedur paspor mereka di negara asal mereka," katanya.