SLEMAN -- Rektor UGM Panut Mulyono dengan cara tegas menerangkan kalau pihaknya bakal membatasi gerakan radikal didalam universitas. Pasalnya kehadiran gerakan itu bertentangan dengan pancasila serta bakal membahayakan generasi penerus bangsa yang akan datang.

Hal itu ia berikan terkait karenanya ada rektor satu diantara perguruan tinggi yang disangka berafiliasi pada satu jaringan radikal. " Hal itu kan begitu beresiko, karna dapat pengaruhi mahasiswa-mahasiswa baru, " kata Panut, Senin (5/6).

Sekarang ini, UGM sudah lakukan beragam aksi strategis untuk menghindarnya penyebaran memahami radikal. Salah satunya, ospek diakukan oleh kampus dengan melibatkan dosen, mahasiswa, serta tenaga pendidik.
UGM juga lakukan pengaturan penyelenggaraan kuliah agama Islam. Dimana terlebih dulu, mata kuliah itu didampingi oleh asisten agama Islam. Tetapi dalam perjalanannya kehadiran asisten dikira kurang efisien. " Yang akan datang asisten ini bakal kita tujukan supaya dapat searah dengan mata kuliah agama serta tidak mengemukakan bibit-bibit radikalisme, " tutur Panut.

Diluar itu, UGM tengah lakukan pembenahan serta pengelolaan Masjid Universitas (Maskam). UGM bakal membuat takmir masjid. Hal semacam ini dikerjakan untuk menanggung keamanan aktivitas keagamaan di Maskam UGM. " Kami (UGM) memiliki komitmen untuk mengawal proses Pancasila serta tidak bertentangan dengan agama kita. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan UU 45, tidak sama namun tetaplah satu, " kata Panut.