BREAKINGNEWS.CO.ID – Kabar kurang baik datang menghampiri Uber, hal ini dikarenakan mereka mengalami kerugian sebsar USD1 miliar atau setara dengan Rp14,7 triliun pada Q3. Dengan pertumbuhan yang terus melambat, selama tiga kuartal hingga Q3, yang berakhir pada 30 September lalu, Uber hanya tumbuh kurang dari sepeuluh  persen.

Kerugian Uber itu sendiri sebelum pajak, depresiasi, dan amortisasi mencapai USD592 juta (Rp8,7 triliun). Angka tersebut masih lebih kecil jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu atau jika dibandingkan dengan kuartal lalu, seperti yang dilaporkan oleh Fortune.

Seiring dengan perlambatan pertumbuhan tersebut, Uber sendiri mulai menanamkan investasi di industri lain. Perusahaan yang kini memiliki valuasi USD76 miliar (Rp1.115 triliun) itu juga tengah menawarkan berbagai layanan lain seperti jasa pengantar makanan serta pengangkutan barang.

Pada tahun 2018 ini, mereka mengakuisisi Jump, perusahaan sepeda online. Mereka juga mengumumkan jika rencana mereka selanjutnya adalah menjadikan motor listrik dan skuter sebagai opsi kendaraan bagi para penggunanya.

Sementara itu, pada tahun 2017 adalah tahun yang penuh masalah bagi Uber. Tahun lalu, Uber harus berhadapan dengan skandal pelecehan seksual yang mendorong masyarakat untuk melakukan boikot, dan berakhir pada turunnya pendiri Travis Kalanick dari jabatan CEO.

Meskipun begitu, CEO Dara Khosrowshahi tengah mempersiapkan perusahaan untuk IPO (Penawaran Saham Perdana) pada tahun 2019 mendatang.

"Untuk perusahaan dengan ukuran dan jangkauan global seperti kami, pendapatan kami kuartal ini cukup baik," ungkap Nelson Chai  selaku Chief Financial Officer Uber.

“Saat kami menantikan IPO dan lainnya, kami berdedikasi untuk pertumbuhan di masa mendatang di platform kami, termasuk dalam makanan, kargo, sepeda listrik dan skuter, dan pasar berpotensi tinggi di India dan Timur Tengah,” pungkas Nelson Chai.

Pada kuartal sebelumnya, Uber melaporkan rugi bersih 891 juta dolar AS (sekitar Rp13,02 triliun) dengan pendapatan 2,8 miliar dolar AS (sekitar Rp40,9 triliun), dengan keseluruhan pembukuan sebesar 12 miliar dolar AS (sekitar Rp175,3 triliun).