BREAKINGNEWS.CO.ID -  Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta jelang  Senin (11/2/2020) siang terus menguat  seiring turunnya imbal hasil obligasi AS. Pada pukul 10.08 WIB, rupiah sendiri bergerak menguat 22 poin atau 0,16 persen menjadi Rp13.690 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya di level Rp13.712 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa, mengatakan pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran wabah Virus Corona dengan terus bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal akibat virus tersebut. Hal itu berpotensi menekan rupiah. "Tapi di sisi lain, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turun lagi di bawah 1,6 persen, bisa menahan pelemahan rupiah dan mungkin mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS," ujar Ariston, Senin (11/2).

Sementara itu Bank Sentral China People's Bank of China (PBoC) juga baru saja dikabarkan kembali menyuntikkan dana ke pasar sebesar 100 miliar yuan atau sekitar 14,3 miliar dolar AS. "Ini bisa memberikan sentimen positif ke pasar aset berisiko termasuk rupiah," kata Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini bergerak di kisaran Rp13.670 per dolar AS hingga Rp13.720 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp13.686 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp13.708 per dolar AS.

IHSG

Sementara itu, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa diprediksi menguat terbawa bursa saham global yang positif. IHSG dibuka menguat 11,47 poin atau 0,19 persen ke posisi 5.963,55. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 3,36 poin atau 0,35 persen menjadi 971,7.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah mengatakan bursa saham AS menguat di awal pekan ini karena investor mengabaikan potensi tertekannya ekonomi di tengah musim laporan laba perusahaan.

"Membaiknya saham global terutama bursa AS, diperkirakan memberikan dukungan positif bagi IHSG untuk bergerak ke teritorial positif pada perdagangan saham hari ini," ujar Alfiansyah.

Sementara itu ancaman wabah Virus Corona yang sudah menyebar di luar daratan China, mengakibatkan berbagai perusahaan menarik diri dari pertemuan internasional.

Investor berusaha mencari tahu apakah tingkat penularan virus tersebut telah mencapai masa puncaknya. Sisi lainya, investor memantau dimulainya kembali aktivitas pabrik-pabrik di China.

Provinsi Hubei, China, yang menjadi episentrum wabah Virus Corona, kembali melaporkan 2.097 kasus baru serta 103 kematian lainnya pada Senin (10/2) lalu.

Komisi kesehatan Hubei menyebutkan provinsi tersebut kini telah mengkonfirmasi total kasus sebanyak 31.728 dengan 974 korban meninggal.

Diperkirakan masih terdapat total 16.687 dugaan kasus Virus Corona di provinsi itu, namun belum terkonfirmasi.