BREAKINGNEWS.CO.ID – Seorang juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan, sudah menjadi pengetahuan umum kalau di provinsi Idlib yang berada di barat laut Suriah diperlukan solusi politis dan bukanlah militer. Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan persiapan dengan perwakilan Prancis, Jerman serta Rusia untuk pertemuan puncak empat pihak mendatang di Suriah, Kalin menuturkan mereka mengharapkan pemeliharaan status Idlib saat ini, perlindungan warga sipil, serta pencegahan krisis kemanusiaan di sana.

"Poin umum semua orang ialah bahwa jalan keluarnya harus lebih bersifat politik daripada militer," katanya seperti dikutip dari Anadolu, Sabtu (15/9/2018). Kalin menuturkan, kunjungan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan ke kota Rusia, Sochi, dan upaya-upaya setelahnya sangatlah penting. "Turki mengharapkan dukungan yang lebih terbuka dan langsung dari komunitas internasional serta para pemimpin," tambah Kalin.

Sejak awal September, setidaknya 30 warga sipil meninggal dunia di Idlib dan Hama, serta lusinan terluka, akibat serangan udara dan serangan oleh rezim serta pesawat tempur Rusia, menurut lembaga pertahanan sipil White Helmets. Rezim Suriah beberapa waktu terakhir mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah itu, yang lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata. PBB memperingatkan kalau serangan seperti itu akan mengarah pada bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.

Operasi Militer di Idlib 

Menteri pertahanan Turki, Hulusi Akar memperingatkan bahwa setiap operasi militer di Idlib, Suriah, dapat membawa wilayah rawan konflik itu ke ambang bencana. “Idlib berada di ambang krisis baru. Turki bekerja sama dengan Rusia, Iran, dan sekutu lainnya untuk membangun perdamaian dan stabilitas [di Suriah] dan menghentikan tragedi kemanusiaan,” ujar Hulusi Akar saat pertemuannya dengan sejumlah duta besar pada Rabu (12/9) lalu.

Idlib, yang berbatasan dengan Turki, adalah rumah bagi lebih dari tiga juta warga Suriah. Banyak di antaranya melarikan diri ke kota-kota lain setelah serangan pasukan rezim Bashar al-Assad. Beberapa waktu terakhir ini, rezim Bashar al-Assad mengumumkan rencananya untuk melancarkan serangan militer besar-besaran ke daerah tersebut, yang dikendalikan oleh beberapa kelompok oposisi bersenjata.