BREAKINGNEWS.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan tegas menolak permohonan seorang warganya, Hoda Muthana, yang ingin kembali ke AS setelah menjadi pengikut kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Trump bahkan menyatakan bahwa perempuan berusia 24 tahun itu sudah bukan warga Negeri Paman Sam.

"Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dan dia sepenuhnya setuju, untuk tidak mengizinkan Hoda Muthana kembali ke Negara ini!," cuit Trump melalui akun Twitternya, Kamis (21/2/2019). Hoda Muthana yang berasal dari Alabama itu pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS pada November 2014 lalu. Pompeo bahkan menyatakan Muthana yang saat ini ditahan di kamp pengungsi Kurdi sudah bukan warga AS.

"Hoda Muthana bukan warga negara AS dan tidak akan diterima di Amerika Serikat. Dia tidak memiliki dasar hukum, tidak ada paspor AS yang sah, tidak ada hak untuk paspor, atau visa untuk bepergian ke Amerika Serikat," kata Pompeo. Muthana masih berstatus sebagai mahasiswa saat ia meninggalkan AS dan bergabung dengan ISIS. Perempuan itu kemudian dipinang oleh tiga militan berbeda. Dia aktif mempropagandakan ISIS melalui Twitter, dan kerap menghasut untuk membunuh warga Negeri Paman Sam.

Akan tetapi setelah ISIS terus digempur dan semakin terdesak, Muthana saat ini terpaksa harus mengungsi ke Suriah Utara bersama dengan anaknya yang masih bayi. Berbanding terbalik dengan sikap sebelumnya, saat ini dia mengaku menyesal. Apalagi dia juga sudah membakar paspornya. "Ketika saya pergi ke Suriah saya adalah seorang perempuan muda yang naif, emosional, dan sombong. Untuk mengatakan bahwa saya menyesali kata-kata di masa lalu, setiap rasa sakit yang saya sebabkan pada keluarga saya dan permasalahan lain yang saya sebabkan pada negara saya, akan sulit bagi saya untuk mengekspresikannya dengan benar," tulis Muthana.

Perwakilan keluarga, Hassan Shibly, membantah pernyataan Pompeo yang menyatakan Muthana bukan warga AS. Menurut Shibly, Muthana lahir di Hackensack, New Jersey pada 1994 silam dan dibesarkan di Hoover, Alabama. Ayahnya merupakan diplomat Yaman, yang mengundurkan diri beberapa bulan sebelum kelahiran Muthana. Akan tetapi, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan Muthana tidak dilahirkan sebagai warga negara AS.

Padahal menurut asas ius soli (hak mendapatkan kewarganegaraan yang dapat diperoleh bagi individu berdasarkan tempat lahir di wilayah dari suatu negara) yang dianut AS, Muthana mendapatkan kewarganegaraan AS, karena lahir di negara itu. Keluarga Muthana berencana menggugat pemerintah AS soal status kewarganegaraan itu. Muthana mengaku ditangkap pasukan AS pada 10 Januari 2019 lalu di gurun Suriah, ketika hendak kabur dari pertempuran. Sekitar 59 warga AS diyakini bergabung dengan ISIS. Sebanyak 13 orang di antaranya, termasuk seorang lelaki asal Texas, sudah kembali dan diadili. Jumlah itu termasuk kecil, jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Prancis dan Inggris.