BREAKINGNEWS.CO.ID - Penolakan Fadli Zon terhadap rencana rekonsiliasi Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto disikapi beragama. Pendapat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu juga dianggap bukan sikap resmi partai berlambang garuda itu.

Hal ini muncul dari Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Maruf Amin, Ace Hasan Syadzili. Politisi Golkar  ini tidak terlalu mempermasalahkan pernyataan Fadli Zon yang menolak adanya rekonsiliasi antara Jokowi dengan Prabowo.

Bahkan Ace menilai sikap yang demikian merupakan pertanda jika Fadli masih terbawa suasana Pilpres 2019 alias belum move one. Menurut  Ace, masyarakat di akar rumput sebenarnya menginginkan terealisasinya pertemuan kedua tokoh nasional itu. "Masyarakat sudah menerima hasil Pemilu 2019. Yang harus dijaga yaitu justru pernyataaan elitnya yang belum move on," ujar Ace.

Ace menyatakan, rekonsiliasi Jokowi - Prabowo penting untuk dilakukan agar bisa menciptakan suasana sejuk dan ketenangan usai pemilu dan pilpres. Hal itu juga menjadi kebutuhan masyarakat yang sempat berbeda pandangan politik.

"Kalau menurut Fadli Zon tidak perlu rekonsiliasi tentu haknya mereka. Kami ingin masyarakat diajarkan untuk berdemokrasi dengan sehat bahwa dalam demokrasi itu perlu sportivitas," kata Ace.

Sementara petinggi Partai NasDem beranggapan pemikiran Fadli Zon tersebut dinilai sangat sempit. “Fadli memahami rekonsiliasi secara sempit yang hanya untuk kepentingan kelompok dan golongan dan bahkan mendorong politik diametral,” ujar Sekjen Partai NasDem, Johnny G. Plate.

Sebaliknya Johnny berharap agar para elite politik tidak menolak kenyataan yang terjadi pada saat ini. Pasalnya masih ada ketegangan pada masyarakat selama berlangsungnya Pilpres 2019.

“Para tokoh perlu menjaga agar tidak rabun dalam melihat realitas kehidupan kebangsaan selama masa kampanye pilpres dan pileg dan residu pemilu. Masyarakat memang terbelah dan bahkan sampai di lingkungan terkecil seperti keluarga. Hal ini harus diakhiri dan kembali bersatu membangun masyarakat, bangsa, dan negara,” ungkapnya.

Johnny juga menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung adanya rekonsiliasi dalam waktu dekat guna menghindari masyarakat Indonesia dari pertikaian.

“Rekonsiliasi sebagai bagian dari kegotongroyongan pembangunan bangsa dan negara, dan tidak selalu harus menjadi bagian dari kabinet. Rekonsiliasi justru untuk mengakhiri keterbelahan sosial dan merajut kembali keeratan dan persaudaraan di tingkat basis masyarakat melalui simbol dan role model berupa silaturahmi di antara Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” ucap Johnny.