BREAKINGNEWS.CO.ID -  Tol Laut adalah program yang menjadi olok-olok karena dinilai tidak akan berhasil menekan disparitas harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur. Namun kini yang terjadi adalah sebaliknya, program yang menjadi ambisi presiden Joko Widodo ini telah sukses menekan disparitas harga barang antar kawasan tanah air.

 "Ini program Tol Laut semula semua orang sangat skeptis, banyak yang menjadikan olok-olok, tapi Pak Jokowi dengan tegas melanjutkan," Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Surabaya, Senin (4/2/2019).

Saat berbicara dalam salah satu seminar, politisi Nasdem ini mengatakan disparitas harga bisa cepat ditekan asalkan infrastruktur dibangun lebih dahulu. Tol laut adalah salah satu bentuknya. "Ini harga yang harus kita bayar. Kita kapan mau bangun Indonesia Timur selama infrastruktur tidak terbangun," katanya.

Apabila disparitas masih ada di antara Indonesia Barat dan Timur, menurut Enggar, artinya keadilan belum terwujud.

"Maluku di Papua belum sama, disparitas masih ada, ini menunjukkan tidak ada keadilan," katanya.

Enggartiasto mengaku masih adanya egosektoral dalam implementasi tol laut, untuk itu diperlukan koordinasi, terutama terkait bongkar muat dan informasi akurat mengenai kebutuhan serta potensi di suatu daerah.

"Bukan masalah terjadi di Pelindo tapi di bongkar muat kita akan segera menyesuaikan pekerjaan rumah kita dengan kementerian terkait kapan di sana  panen kapan daerah di sini membutuhkan," katanya.

Dalam kesempatan sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan harga bahan pokok di wilayah Indonesia Timur rata-rata sudah turun 15-20 persen.

Dia menyebutkan tahun ini juga akan ditambah 100 kapal untuk tol laut yang diberikan 50 kapal untuk BUMN dan 50 kapal untuk swasta. "Ditambah subsidi angkutan kita 'all out' bukan hanya subsidi, angkutan kapalnya pun kita siapkan. Di pulau-pulau, seperti Morotai sudah minta kapal bergerak dari Barat ke Timur," katanya.

Dia menambahkan tol laut juga berpotensi untuk merebut pasar kargo udara karena saat inu harganya bersaing.  "Jakarta ke Bitung kalau hari itu laku, kalau dua  minggu sulit bersaing. Sekarang muatan tol laut 80 persen, kalau muatannya baliknya 80 persen juga Pak Enggar, kita enggak perlu subsidi," katanya.