BREAKINGNEWS.CO.ID - Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Aria Bima membantah jika Revolusi Mental Jokowi berbelok menjadi pembangunan infrastruktur. Menurutnya, Revolusi Mental itu bagaimana program yang disampaikan dengan cara-cara membangun suatu tradisi prilaku.

"Bagaimana kita melihat wilayah perbatasan yang dulu menjadi beban ekonomi, sekarang masyarakat wilayah perbatasan menjadi sangat Indonesia tanpa dia harus di Jakarta," kata Aria Bima kepada wartawan saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019).

"Orang Papua merasa sudah Indonesia tanpa harus ke Jawa. bagaimana kita bangga mempunyai wilayah kelautan dengan program illegal fishing. Inilah yang dimaksudkan bahwa membangun revolusi mental dengan keteladanan para pemimpin," sambungnya.

Menurutnya, membangun Indonesia sentris yang hanya Jawa sentris, yang hanya di Jabodetabek sentris, itu merupakan Revolusi Mental. Dirinya juga mengatakan bahwa orang tidak akan pernah berpikir bahwa daerah-daerah yang dulu terisolir, yang dulu menjadi cost buat pemerintah daerah, skrang menjadi daerah-daerah yang asetnya naik. Yang bslisa dikembangkan.

"Ini kan revolusi mental dalam pengertian kebijakan pemerintah di daerah-daerah yang bonus geografisnya kita itu sangat luar biasa dengan adanya penerbangan perintis, dengann ada dibangunnya penerbangan-penerbangan di jalur yang dulu tidak memungkinkan pariwisata berkembang, sekrang berkembang," tegasnya.

"Revolusi Mental adalah sesuatu yang mendasar yang harus dijungkirbalikan yang dulu tidak mungkin, kita menjadi mungkin. Ini bukan Revolusi Mental kayak pendidikan P4 yang seratus hari, tapi bagaimana mentradisikan pola pikir, pola sikap kita sebagai bangsa yang harus berubah. Dulu kita hanya menjadi objek strategis di antara bangsa-bangsa, sekarang kita menjadj subjek strategis dengan wilayah kelautan kita, dengan illegal fishing kita baru tahu berapa negara yang tergantung dengan kita. Inilah yang sebenarnya mau disampaikan bahwa Revolusi Mental adalah penjungkirbalikan cara berpikir, cara melihat," terangnya.

Untuk itu, dirinya menegaskan bahwa Indonesia harus menjadi subjek strategis, mitra strategis, subjek, bukan hanya sebagai mitra pasar bagi sebanyak 262 juta rakyat Indonesia.

"Kita harus menjadi bangsa yang produktif dengan infrastruktur koneksitas dengan bagaimana berbagai hal pemberian energi listrik, tidak hanya ke empat keluarga tapi juga ke industri. Kita akan bangun koneksitas, kita akan muncul pertumbuhan ekonomi baru yang ada di laut, itu blue court, industrialisasi di sektor perikanan, green court di sektor perkebunan dan pertanian, black court di sektor pertambangan. Itu smua sangat mungkin bisa kita lakukan," pungkasnya.