BREAKINGNEWS.CO.ID - Selama ini, untuk memperoleh SIM, pengendara harus lulus dua macam ujian, yaitu tulis dan praktik. Namun, sebentar lagi, akan ada materi yang diujikan oleh pihak kepolisian. Hal ini dilakukan sebagai tindakan prevensi atau pencegahan kecelakaan akibat gangguan psikologi.

Materi tersebut adalah tes psikologi yang akan berlaku bagi pemohon seluruh golongan SIM (pembuatan SIM baru), peningkatan golongan SIM, dan perpanjangan SIM. Aturan baru ini akan mulai berlaku dalam waktu dekat seperti yang dijelaskan oleh Kompol Fahri Siregar, Kasi Satpas SIM Polda Metro Jaya.

Rencananya, tes psikologi ini akan dilakukan oleh lembaga psikologi yang berada di bawah pembinaan dan pengawasan bagian psikologi Polda Metro Jaya. Bahkan, aturan baru ini telah mendapat dukungan dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia.

"Intinya, Ditlantas PMJ mau menerapkan tes psikokogi untuk penerbitan SIM dan kita sudah minta pertimbangan dari psikolog di Asosiasi Psikolog Forensik Indonesia sebelum mengambil keputusan ini," ujar dia.

Psikolog Lia Sutisna Latif dari Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia juga menjelaskan bahwa butuh aspek psikologis tertentu sebagai soft skill penunjang ketika berkendara, terutama persepsi terhadap risiko dan pengendalian emosi.

Aspek psikologi ini nantinya akan mendukung keterampilan teknis mengemudi. Dengan begitu, pengendara akan menjadi bertanggung jawab dan tidak membahayakan pengguna jalan lain. Pencegahannya tentu dengan melakukan tes psikologi kepada para pembuat SIM.

Sebenarya, tes psikologi ketika pembuatan SIM sudah berlaku, namun hanya bagi penerbitan SIM umum. Aturannya pun sudah ada, yaitu pasal 81 ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan pasal 36 Peraturan Kapolri No. 9 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi. Di dalamnya secara gamblang menjelaskan bahwa pengendara harus sehat secara jasmani dan rohani.

Kesehatan secara rohani ini dinilai dari kemampuan konsentrasi, ketahanan kerja, dan kecermatan. Selain itu, aspek yang terbilang penting lainnya ialah pengendalian diri, kemampuan penyesuaian diri, dan stabilitas emosi.

Yang jelas, calon pembuat SIM tetap harus menguasai teori dan kemampuan berkendara yang baik dan benar, serta bertanggung jawab.

Sementara itu Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI) Tulus Abadi mendukung rencana kebijakan tes psikologi bagi pemohon surat izin mengemudi (SIM).

Menurut dia, aspek psikologis juga berpengaruh signifikan terhadap cara berkendara seseorang.

"Idenya bisa diterima. Sebab dalam mengemudi bukan hanya soal technical skill mengemudi, tapi juga aspek psikologis pengemudi," kata Tulus, Rabu (20/6/2018). Tulus mengingatkan bahwa kemampuan teknis seorang pengemudi yang tak diimbangi dengan aspek psikologis yang baik, berpotensi membahayakan sesama pengendara hingga pejalan kaki.

"Sangat boleh (tes psikologi dilakukan), jadi walaupun secara teknis pengemudi kemampuannya bagus tapi dari sisi psikologi bermasalah, bisa tidak layak mengemudikan kendaraan," kata dia.

Tulus optimistis jika rencana ini dilaksanakan dengan baik, bisa menekan angka kecelakaan dalam berkendara. Oleh karena itu, ia berharap kepolisian bisa menerapkan rencana ini secara konsisten dan transparan kepada masyarakat.

"Idealnya begitu (menekan angka kecelakaan) dan harus dilakukan secara konsisten dan transparan," ungkapnya.

Sebelumnya Kasi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Fahri Siregar mengatakan, uji coba diterapkannya tes psikologi sebagai persyaratan tambahan permohonan SIM di wilayah hukum Polda Metro Jaya akan dimulai pekan ini.

"Kami akan simulasikan sistem ini pada tanggal 21 Juni 2018 sampai 23 Juni 2018," ujar Fahri.

Setelah simulasi dilakukan, lanjutnya, penerapan persyaratan baru ini akan dimulai pekan depan, tepatnya pada 25 Juni 2018.

Fahri mengatakan, simulasi tes psikologi dilakukan untuk melihat apakah sistem akan berjalan baik atau tidak.

Fahri mengatakan, selama ini tes psikologi hanya diterapkan untuk pemohon SIM umum. SIM umum adalah tipe SIM yang harus dimiliki pengemudi angkutan umum.

"Jadi persyaratan tes psikologi ini akan diberlakukan untuk seluruh golongan SIM serta diberlakukan untuk pengajuan SIM baru, peningkatan golongan SIM dan perpanjangan SIM," ujar Fahri.