BLAOEVGRAD -- Rabu (25/4/2018) ini, yang merupakan hari ketiga dari latihan bersama atau sparring-partner Timnas Gulat Bulgaria dan Timnas Gulat Indonesia, pelatih Peter Kasabov membuat program pelatihan yang lebih bernuansa relaksasi. Dia meniadakan latihan sesi pagi, dengan hanya sekali latihan pada sore atau malam WIB.

Bentuk latihan sore hari nanti pun tidak seperti biasanya. "Kita bermain basket, 25 x 2, dan setelah itu teknik," kata Peter Kabasov, pada akhir sesi latihan Selasa (24/4/2018) kemarin. Tempat latihan bersama Timnas Gulat Bulgaria dan Indonesia adalah sebuah arena tertutup milik akademi tentara. Di dalam arena seluas sekitar 150 x 50 itu ada tiga ring basket. Matras gulat terpampang panjar, tiga matras dijadikan satu.

Ridha Wahdaniyati yang kerap berininsiatif memainkan bola basket seusai latihan resmi setiap harinya. Demikan juga kemarin sore. Dia bahkan mengajak pelatih Fathur Rahman dan beberapa rekannya untuk ikut menembakkan bola ke lubang, dan yang gagal three-point shootting harus push-up sebanyak 10 kali. Fathur Rahman termasuk yang kena push-up.

Apa yang dilakukan Ridha rupanya juga membuat para pemain Bulgaria tergugah. Mereka ikut-ikutan. Para pemain Bulgaria yang rata-rata lebih tinggi kini semakin cair dan banyak berkomunikasi dengan pemain Indonesia. Ini tak luput dari perhatian pelatih Peter Kasabov yang seusai latihan itu lebih suka mengambil bola kaki dan menendangnya ke ujung lain dari lapangan tertutup itu.

Peter Kasabov, yang lihai menendang bola dengan kaki kirinya, akhirnya memutuskan sesi latihan sore hari diisi dengan mengadu basket dan setelahnya penyampain aspek teknik gulat. "Kita perlu relaksasi," ucap mantan pegulat Timnas Bulgaria yang Juara Eropa Gaya Bebas 64 kg itu.

Bisa jadi Peter Kasabov memang membutuhkan relaksasi bagi para pemain Timnas Bulgaria yang dipersiapkannya ke Kejuaraan Eropa 30 April-6 Mei di Kaaspisk, Rusia. Dalam dua hari terakhir Peter tampak "menggeber" latihan bersama pegulat putri Indonesia ini. Selain simulasi antar pegulatnya, dia juga menginstruksikan pegulatnya bertanding dengan pegulat Indonesia dengan waktu yang ditentukan.

Jika masih masuk waktu bertanding, dan pegulatnya menang, dia meminta lagi pegulat Indonesia yang lain untuk menghadapinya. Tak mengherankan kalau dalam hitungan waktu bertanding tiga menit ada seorang pegulat Bulgaria yang menghadapi tiga pegulat Indonesia secara bergantian.

Latihan bersama atau "sparring partner" ini dilakukan secara serius, terutama simulasi antara pemain Bulgaria. Saking kerasnya interaksi yang terjadi tak jarang ada pemain Bulgaria yang mengalami kesakitan, entah pada tangan, kaki atau bagian tubuhnya yang lain. Asisten pelatih Tsaoian Petkov dan seorang fisioterafis kemudian sibuk untuk mengurus mereka. Pada latihan sesi sore kemarin Peter sendiri harus menenangkan seorang pemainnya yang terlihat kesakitan hingga harus menangis di satu sudut.

Bagi pelatih Fathur Rahman, latihan bersama dan sparring-partner dengan Timnas Bulgaria ini sangat bermanfaat bagi pemainnya. Dia terus mencatat interaksi dan dinamika yang terjadi di atas matras. Siapa pegulat yang terlihat biasa-biasa saja sewaktu latihan hampir dua bulan di Icuk Sugiarto Training Centre (ISTC), Cisaat, Sukabumi, namun kemudian menunjukkan ferforma yang berbeda saat "sparring partner" di Bulgaria ini.

Waktunya memang masih panjang, namun perubahan sikap mental, fighting-spirit atau semangat juang tentunya wajib dilakukan sejak jauh-jauh hari.