BREAKINGNEWS.CO.ID - Tim Satuan tugas (satgas) AntiMafia Bola telah menetapkan 16 tersangka dalam kasus pengaturan skor di kompetisi sepak bola Indonesia. Tanggal 14 Februari 2019 masyarakat seperti diberi kado valentine oleh Tim Satgas melalui ditetapkannya Ketua Umum PSSI, Joko Driyono sebagai tersangka.

Jokdri diduga menjadi aktor dibalik layar dalam kasus perusakan dokumen di kantor PT Liga Indonesia oleh sopir pribadinya dan office boy PT Liga Indonesia. Besar dugaan, dokumen yang dirusak itu ada kaitannya dengan praktik pengaturan skor. Akan tetapi, meski telah bergelar tersangka, Jokdri tidak langsung mendekam di dalam penjara.

Lain halnya dengan dua tersangka lainnya yaitu anggota Komite Eksekutif (exco) yang sekaligus ketua aspov PSSI Jawa Tengah Johar Lin Eng dan anggota Komisi Disiplin Dwi Irianto alias Mbah Putih. Saat penepatan status Jokdri itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengungkapkan alasan polisi tidak menahan Jokdri karena ancaman hukuman tidak sampai lima tahun penjara. Selain itu, kepolisian menilai Jokdri sangat kooperatif dan tidak akan melarikan diri.

Fenomena ini pun menjadi bahan pertanyaan, khususnya pecinta sepak bola Indonesia. Diberi kabar Jokdri tersangka, namun terasa hambar karena pria asal Ngawi itu tak ditahan. Kasus Jokdri ini pun seperti hilang begitu saja, sejak Februari Tim Satgas tak seperti di awal yang dengan gencar dan cekatan bekerja lalu mengumumkan tersangka-tersangka.

Di lain sisi, PSSI yang sadar bahwa organisasinya sudah tak berlangsung sehat, mereka membentuk Komite Ad Hoc Integritas pada 1 Februari 2019. Komite Ad Hoc Integritas PSSI tujuannya adalah untuk menyikapi segala persoalan terkait dan bekerja dengan berkoordinasi dengan kepolisan alias Tim Satgas.

Menariknya, dalam susunan keanggotaan yang dipimpin oleh Ahmad Riyadh itu, sejumlah nama mantan pejabat tinggi negeri ini ada di dalamnya. Sebut saja, Badroodin Haiti, eks Kapolri. Dia menjabat sebagai bagian penasehat. Kemudian ada dari Kejagung masuk nama Jampidum Noor Rachmad. Selain itu, juga ada M Saleh, mantan Wakil Ketua Mahkamah Agung. Di level anggota, Brigjen Pol Hilman dari Mabes Polri masuk bersama Daru Tri Sadono dari Kejaksaan Agung.

Setelah itu, asus Jokdri pun lambat laun menghilang. Meski sempat Jokdri mengikuti pemeriksaan sebanyak dua kali. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan. Padahal, Jokdri sebelumnya mengakui bahwa dirinyalah yang menyuruh orang untuk merusak sejumlah dokumen. Seiring dengan fenomena ini, muncullah stigma khususnya dari pecinta sepak bola Indonesia.

Tim Satgas dinilai terbentur dengan Komite Ad Hoc Integritas yang diisi oleh mantan pejabat tinggi negara tersebut. Bahkan, muncul nada pesimis bahwa kasus pengaturan skor ini akan hilang begitu saja. Dalam artian tak ada kelanjutan dan antiklimaks, kencang di awal namun meloyo di akhir.

Nah, menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Anev Satgas Anti Mafia Bola, Kombes Pol Edy Ciptianto, dengan tegas membantahnya. Tim Satgas, kata Edy saat ini masih terus bekerja untuk memberantas habis pelaku pengaturan skor di sepak bola Indonesia seperti yang dimandatkan Kapolri Tito Karnavian.

"Sejak awal dibentuk atas perintah Kapolri kami sudah diperintahkan untuk tegak lurus tidak ada intervensi, kami semua harus Merah Putih (Indonesia) dari Ketua Sampai Sekretariat," kata Edy dalam acara diskusi bertajuk "Libas Habis Mafia Bola" di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

"Bahkan, untuk menyampaikan informasi kepada media saja kami hanya lewat satu pintu yaitu Humas Mabes Polri atau Polda Metro. Sampai seperti itu aturanya, sehingga kami diatur sedemikian rupa, diberikan garis kebijakan oleh Kapolri. Yakinlah, Satgas AntiMafia Bola tidak akan antiklimaks," ujarnya, menambahkan.

Sebagai bukti keseriusan Tim Satgas, Edy mengindikasikan bahwa tak lama lagi akan ada tersangka baru. "Kemungkinan ada tersangka baru. Namun, saya belum bisa sampaikan saat ini karena masih ada proses penyidikan dan prosesnya ini sangat sulit. teman-teman wartawan tahu sendiri proses penyidikan Pak Jokdri yang memakan waktu 22 jam," tegasnya.