BREAKINGNEWS.CO.ID - Bukan hanya Negeri Laskar Pelangi Belitung yang terdampak serius oleh tarif tiket pesawat domestik yang selangit. Bali, Pulaunya Dewata pun harus menerima kenyataan pahit. Kadispar Anak Agung Gede Agung Yuniarta menyebut penurunan komulatif dari Januari hingga April 2019 dua digit, 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 lalu.

“Kalau Bali yang langganan The Best Destination in The World saja anjlok, apalagi daerah lain di luar Jawa yang aksesnya menggantungkan pada airlines? Sudah pasti akan ikut turun, bahkan lebih drastis lagi,” kata Agung Yuniarta, Selasa (21/5/2019).

Travellers apalagi millennials, pasti akan mencari destinasi yang aksesnya lebih murah dan lebih bergengsi. “Saya menduga, lebih banyak wisatawan kita yang terbang ke luar negeri, dengan tiket yang jauh lebih murah dibandingkan perjalanan domestic antarpulau di Indonesia,” ungkap Agung lagi.

Hal serupa juga dibenarkan Muhammad Lalu Faozal, Kadispar NTB. Ketika Bali turun, hampir pasti Lombok ikut terimbas. Lalu menyusul kemudian, Sumbawa, Sumba, sampai ke Komodo Labuan Bajo. “Jumlah Flights Garuda Indonesia juga turun, dari 5 kali sehari, sekarang tinggal 3 kali sehari,” jelas Lalu Faozal.

Dia menjelaskan, market utama Lombok adalah travellers Jakarta. Merekalah yang punya daya beli tinggi dan mau belaja untuk berwisata. Tetapi dulu Jakarta-Lombok 14 penerbangan sehari, semua airlines. Sekarang tinggal 10 kali saja. Jadi Lombok NTB ini terkena “bencana” bertubi-tubi. Pertama kena erupsi gunung gempa Agung Bali, lalu gempa, tsunami, dan sekarang kena serangan tiket mahal.

“Kalau wisatawan mancanegara kita masih stabil. Tidak ada kebijakan airlines yang mendadak mahal di penerbangan internasional. Malah sekarang Air Asia menjadikan Lombok sebagai transportation hub-nya. Terima kasih Air Asia,” ujar Faozal.

Jadi, keluhan Bupati Belitung H. Sahani Saleh, S.Sos yang meratapi nasib lantaran wisatawan nusantara (Wisnus) nyungsep ke titik yang mengkhawatirkan itu, bisa dimengerti. Apalagi Belitung sedang membangun semua infrastruktur Atraksi, Akses dan Amenitas nya sebagai 10 Bali Baru, atau satu dari 10 Destinasi Prioritas. “Saya sudah laporkan langsung ke Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya, beliau bisa mengerti,” ungkap Sahani Saleh.

Sinyalemen Kadispar Bali Agung Yuniarta bahwa outbound akan meningkat ketika harga tiket domestik tidak turun signifikan, sementara tiket ke luar negeri lebih murah, betul-betul terjadi. Chief Executive Officer (CEO) Transport Traveloka, Caesar Indra dalam sebuah keterangan resminya di Jakarta, Sabtu 18 Mei 2019 lalu menegaskan bahwa pemesanan tiket ke luar negeri meningkat tajam.

Bahkan, pendapatan dari penjualan tiket ke luar negeri (outbound travel) naik mencapai hampir 70%, dengan tujuan Jepang, Korea Selatan, Inggris, Belanda, dan Perancis. Sisanya, dari pembelian tiket dari Negara-negara Asia Tenggara ke Indonesia, maupun lintas kota di wilayah Indonesia.

"Data itu menunjukkan, walau ada kelesuan di industri, akibat harga tiket yang melonjak hampir dua kali lipat, aplikasi Traveloka masih tetap menjadi pilihan favorit bagi masyarakat Indonesia untuk membeli tiket pesawat," kata Caesar.

Traveloka juga mencatat, bahwa unit bisnis Transport Traveloka dengan moda Kereta Api, Bus & Travel, Antar Jemput Bandara, dan Rental Mobil, meningkat tajam. "Sekarang, moda transportasi darat mulai digemari para travellers. Ini sejalan dengan meningkatnya infrastruktur darat di Indonesia, serta makin meningkatnya kualitas transportasi darat di Indonesia," ujar dia, yang menyebut ada kenaikan 12 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Menpar Arief Yahya membenarkan, bahwa infrastructure transportasi darat di era Presiden Joko Widodo memang progresif. Tol dari Jakarta sampai ke Surabaya sudah nyambung. Dari Pandaan sampai ke Malang juga sudah connected. Dari Semarang ke Solo hanya 60 menit. “Untuk overland di Jawa, sudah bagus!” ungkap Menpar Arief Yahya.

Traveloka adalah salah satu digital company yang bergerak di Online Travel Agent terbesar di Asia Tenggara, dan sudah Co Branding dengan Wonderful Indonesia. “Saya sudah ke kantornya di Singapore, kami sepakat untuk bersama-sama mempromosikan Pariwisata Indonesia, membuat lebih banyak inventory destinasi untuk dipasarkan di platformnya,” jelas dia.

Soal tiket pesawat yang mahal, memang menjadi tantangan Pariwisata Indonesia saat ini. Dalam pengembangan destinasi wisata, Menpar Arief Yahya selalu menggunakan rumus 3A, Atraksi Akses dan Amenits. Ketiganya harus ada dan integrated. Salah satu saja tidak tersedia, maka produk destinasi itu akan pincang dan tidak bisa berkembang.

Menpar Arief Yahya juga sudah berkoordinasi ke Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, untuk mencari cara agar biaya transportasi udara kita lebih terjangkau. Apalagi 75% inbound trevel ke Indonesia masih menggunakan jasa angkutan udara. Tetapi yang tidak kalah jumlahnya adalah wisatawan nusantara atau wisnus, bahwa piknik itu semakin menjadi kebutuhan dasar anak-anak zaman now.

Kemenhub sudah mengeluarkan regulasi baru, tanggal 16 Mei 2019, ketika upaya persuasi dengan airlines tidak menemukan hasil. Keputusan Menteri Perhubungan No 106 Tahun 2019 soal Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Berjadwal Dalam Negeri sudah dikeluarkan, yang menurunkan Tarif Batas Atas di kisaran 12-16%, average 15%.

Menurut Judi Rifajantoro, Staf Khusus Menpar Bidang Infrastruktur dan Aksesibilitas, Kemenhub memang hanya bisa mengantur sampai pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB). Ujungnya, perusahaan airlines yang bisa mengimplementasikan dengan membuat variasi harga, berdasarkan season, waktu, dan demand. Tujuannya untuk menghindari persaingan usaha yang tidak sehat, saling banting harga di level harga rendah. Juga untuk mengindari harga yang terlalu tinggi, ketika peak season di level harga atas.

Dengan kenaikan tarif tiket pesawat yang mendadak, dan tinggi itu? Harga yang dirasakan oleh masyarakat selama ini, sebelum kenaikan akhir tahun 2018 yang lalu, adalah harga di tengah-tengah antara TBA dan TBB. Di kisaran 45% sampai 65% (average 50%) dari Tarif Batas Atas. Dan itu sudah berjalan sekian lama dan menjadi harga psikologis buat masyarakat.

Judi Rifajantoro mencontohkan, terbang dari kota A ke kota B, selama ini seharga Rp 1 juta. Inilah yang disebut sebagai harga normal, harga psikologis, oleh masyarakat, karena sudah berlaku bertahun tahun. Meskipun sebenarnya, harga itu hanya 50% dari Tarif Batas Atas (TBA)-nya.

Kalau peak season, harga bisa naik hingga Rp 2 juta, atau menjadi 100% dari harga normal. Sedangnya di saat low season harganya bisa turun lagi menjadi Rp 1 juta. Ini mekanisme pasar biasa, harga menyesuaikan demand and supply.

Yang terjadi, sejak awal Januari 2019, ketika sudah melewati peak season Liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, tiket pesawat masih mahal. Tiket tidak turun, padahal sudah bukan peak season, situasi sudah normal. Harga masih tidak normal, harga masih jauh di atas angka psikologis. Harga masih mendekati Tarif Batas Atas maksimal.

Inilah yang diprotes oleh masyarakat, karena jatuhnya tarif tiket mahal sekali.

Buat perusahaan maskapai, mereka tidak salah, tidak menabrak peraturan Menteri Perhubungan. Karena masih dalam range TBA dan TBB. Tetapi dari harga normal, harga psikologis, yang biasanya di harga Rp 1 juta, maka harga Rp 2 juta itu mahal sekali, bahkan membuat gejolak di masyarakat. Harga yang tidak lazim, apalagi tidak berubah, selalu mendekati TBA.

Kemenhub sudah menurunkan TBA, antara 12-16%, atau average 15%. Maskapai menghitung dari harga yang sudah tinggi, harga TBA yang sudah menjadi 200% dari harga normal yang dipersepsikan masyarakat, maka harga masih dirasakan mahal. “Kalau Full Service Carrier 100%, maka Medium Service Carrier 90%, dan Low Cost Carrier 85%.

“Dari persentase itu, berarti semua akan mengikuti aturan menurunkan batas atasnya, termasuk LCC dan MSC. Maka, maskapai masing-masing kelompok layanan akan menurunkan tariff rata-rata 15% dari TBA maksimumnya. Sehingga masyarakat penumpang akan merasakan penurunan yang kurang lebih sama, yakni 15%” jelas Judi Rifajantoro.