BREAKINGNEWS.CO.ID - Tiga orang wanita terpaksa harus berurusan dengan pihak kepolisian lantaran melakukan kampanye hitam dan menyebarkan hoax yang meresahkan masyarakat.

Diketahui identitasnya, tiga wanita tersebut adalah ES (37) warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang,  IP (41) warga Desa Wancimekar dari Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang dan CW (40) warga Telukjambe, Desa Sukaraja, Kabupaten Karawang.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombespol Trunoyudo Wisnu mengatakan hingga kini ketuga wanita tersebut telah diamankan dan menjalani pemeriksaan di Mapolda Jawa Barat.

“Ketiganya diamankan pada Minggu (24/2) malam sekitar pukul 23.30 WIB, di kawasan Telukjambe oleh Polres Kerawang, ketiganya masih kita tahan dan diperiksa apa motifnya melakukan kampanye terselubung tersebut” ujarnya dikonfirmasi, Senin (25/2/2019).

Diketahui sebuah video hoax kampanye hitam di media sosial yang mana dalam tayangan video tersebut terlihat dua wanita berdialog seputar larangan memilih Capres nomor urut 01 dengan alasan, akan melarang adzan dan juga melegalkan perkawinan sejenis.

Polisi cyber Polres Karawang yang berpatroli kemudian melakukan penangkapan seseorang yang mengunggah video tersebut. “Dari tertangkapnya sang pengunggah, kemudian kita tangkap dua pelaku lainnya” ujar Trunoyudo.

Dalam tayangan video dialog dia orang wanita tersebut yakni “Moal aya deui sora azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awene meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin,” kata seorang perempuan dalam bahasa Sunda yang mana dalam bahasa Indonesia, kalimat tersebut dapat diartikan,

“suara azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab. Perempuan sama perempuan boleh kawin, laki-laki sama laki-laki boleh kawin”

Sementara itu Kapolres Karawang AKBP Nuredy Irwansyah Putra mengatakan, tiga perempuan yang terkait dengan dugaan video berisi kampanye hitam diamankan di Mapolres Kawarang sebagai langkah awal hindari konflik.

"Tiga orang wanita itu kami amankan sebagai langkah preventif terjadinya konflik yang lebih besar," ujar Nuredy.