BREAKINGNEWS.CO.ID – Sejumlah isu penting dan sensitive diperkirakan akan menjadi topik utama dalam  Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Bali yang sudah  di depan mata. Kehadiran 13.000 delegasi, sejumlah gubernur bank negara-negara industry utama dunia,  seperti Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Jerome Powell, maupun CEO Alibaba Jack Ma

Kehadiran mereka menjadi penting lantaran  bergejolaknya ekonomi global yang saat masih berlangsung. Dan pertemuan ini dipastikan selalu selalu membahas isu ekonomi terkini. Maka, tak pelak jika dunia mengawasi acara ini.

Media-media internasional seperti New York Times, mengungkap,tiga tema pokok. Pertama adalah naiknya tensi antara AS dan Cina. Kedua negara sedang perang dagang dalam bentuk tarif. Negara-negara lain ikut cemas karena perang dagang ini sulit diprediksi arahnya.

Apalagi Presiden Donald Trump berhasil merevisi beberapa perjanjian dagang dengan sejumlah negara, seperti Meksiko dan Kanada. Dan dengan menguatnya hubungan AS dan Korea, Trump diperkirakan berusaha mengajak koalisinya untuk mengisolasi Tiongkok demi mendorong perubahan bisnis dan dagang di negara tersebut.

Selanjutnya yang diperkirakan akan dibahas oleh Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde ialah masalah dagang dan pengaruhnya dalam mendorong pertumbuhan seluruh bangsa, bukan sebaliknya.

Sekadar pengingat, sebelumnya Presiden Joko Widodo memberikan pidato mengenai perdagangan yang berkelanjutan di pertemuan OPEC pada September lalu. Jokowi menolak pemikiran bahwa perlu ada pihak yang kalah demi mencapai kesuksesan, ia menyebut pemikiran itu sebagai "Thanos".

"Thanos ada dalam diri kita semua. Thanos adalah kepercayaan sesat bahwa agar kita sukses, yang lain harus menyerah," ucap Jokowi.

Terakhir namun tak kalah penting, bahasan mengenai risiko krisis ekonomi diprediksi akan dibahas. Sebelumnya, IMF telah lebih dulu mengingatkan mengenai krisis pada Laporan Stabilitas Finansial Global.

Sebelumnya, bos IMF Madame Lagarde mengaku sudah melihat tanda-tanda akan potensi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang memberi dampak ke banyak negara di dunia. "Untuk kebanyakan negara, sekarang sudah makin sulit untuk menunaikan janji kesejahteraan yang lebih besar, sebab cuaca ekonomi global mulai berubah," ujar Lagarde dalam pidatonya.