BREAKINGNEWS.CO.ID – Sedikitnya tiga orang bayi ditemukan tewas dan lebih dari 100 imigran lainnya belum ditemukan, setelah sebuah kapal yang membawa imigran dilaporkan tenggelam di perairan Libya.

Dilansir The New Straits Times, Sabtu (30/6/2018), insiden tenggelamnya kapal tersebut terjadi pada Jumat (29/6) lalu. Saat itu, kapal tengah membawa sekitar 120 imigran yang hendak meninggalkan Tripoli, Libya dari pelabuhan Garaboulli. Sekitar 16 imigran berhasil diselamatkan dan dibawa ke daratan menggunakan sekoci. Akan tetapi, sisanya belum bisa ditemukan oleh petugas. Korban yang belum ditemukan termasuk dua bayi dan tiga anak berusia di bawah 12 tahun.

Seorang korban yang selamat dari insiden itu menurutkan bahwa beberapa saat sebelum kapal berlayar sudah terjadi sebuah ledakan. Mesin kapal pun terbakar dan air masuk ke dalamnya. "Pada mulanya saya sempat menolak untuk masuk ke dalam kapal. Sebab, awalnya mereka menjanjikan hanya ada 20 orang dalam kapal tersebut. Nyatanya lebih dari 120 orang," kata Amri Swileh salah seorang imigran asal Yaman yang selamat.

Akan tetapi, setibanya di pelabuhan ia justru dipaksa untuk naik ke kapal oleh penyelundup. "Semua teman-teman saya yang berasal dari Yaman hilang. Sekitar lima orang tak diketahui keberadaannya." Sementara itu, ke-16 penumpang yang selamat dalam insiden mengerikan ini berasal dari Gambia, Zambia, Sudan dan Yaman.

"Setiba lokasi kecelakaan kapal saya sangat terkejut. Sungguh pemandangan yang mengerikan," kaya Kapten Penjaga Pantai, Salem al-Qadhi. Informasi kecelakaan kapal yang ditumpangi oleh imigran ini pertama kali diterima oleh petugas penjaga pantai Libya dari para nelayan yang sedang melaut.

Uni Eropa Capai Kesepakatan soal Pembatasan Imigran

Sementara itu, para pemimpin negara Uni Eropa (UE) telah mencapai kesepakatan soal pembatasan imigran dan pengetatan kebijakan imigrasi, usai melaksanakan pertemuan tingkat tinggi selama semalam suntuk sejak Kamis, 28 Juni 2018. Kepala Dewan Uni Eropa, Donald Tusk mengumumkan bahwa 28 pemimpin negara UE telah menandatangani pakta yang berisi kebijakan baru yang berfokus pada penguatan perbatasan eksternal dan kontrol perbatasan internal dari imigran.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron memuji "kerja sama" itu, yang ia nilai memungkinkan meleburnya sudut pandang berbeda dari masing-masing negara Uni Eropa. Kendati demikian, banyak pihak menilai bahwa Italia merupakan pihak yang sangat diuntungkan atas konsesi tersebut, apalagi, delegasi negara itu terbukti sangat keras kepala sebelum dan selama malam pembicaraan terkhusus isu imigran dan imigrasi.

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte meninggalkan pertemuan itu dengan bahagia, katanya, bahwa "Italia tidak lagi sendirian," terkait isu tersebut. Konsesi itu akan menindak tegas mereka yang terlibat dalam operasi perdagangan dan penyelundupan orang dari Afrika dan wilayah lain ke Eropa, terutama Italia --yang menjadi destinasi singgah pertama para imigran.

Kesepakatan tersebut juga berisi komitmen Uni Eropa untuk meningkatkan dukungan bagi otoritas Afrika dan Eropa selatan yang menangani mobilitas imigran, serta meningkatkan dana bagi komunitas yang terdampak. Hal itu kemungkinan mencakup dana bantuan bagi pulau-pulau terluar Italia, seperti Sisilia dan Lampedusa yang telah menjadi tujuan utama bagi banyak imigran yang masuk ke Eropa.