BREAKINGNEWS.CO.ID -  Sentimen virus corona atau COVID-19 kembali menjadi faktor utama pelemhan rupiah.  Nilai tukar mata uang garuda ini terpuruk hingga ke angka Rp14.000 terhadap dolar Amerika pada Kamis (27/2/2020).

Rupiah ditutup melemah 85 poin atau 0,61 persen menjadi Rp14.025 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp13.940 per dolar AS. "Dampak melambatnya ekonomi global akibat epidemi Virus Corona yang terus menyebar ke berbagai negara, maka hampir pasti Indonesia mengalami perlambatan ekonomi," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (27/2).

Seperti ditulis laman Antaranews.com, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun 2020 kemungkinan berada di bawah 5 persen. Sedangkan untuk keseluruhan 2020, BI mengubah proyeksi dari 5,1-5,5 persen menjadi 5-5,4 persen.

Menurut Ibrahim, guna menanggulangi dampak wabah COVID-19 tersebut, maka Pemerintah dan Bank Indonesia harus memperkuat stabilitas ekonomi dengan cara melakukan strategi bauran kebijakan baik moneter, fiskal, maupun yang lainnya, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian dalam negeri.

Selain itu, BI hari ini kembali melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). "Intervensi yang dilakukan oleh BI tidak bisa membawa mata uang Garuda menguat, namun apa yang di lakukan oleh bank sentral tersebut sudah memberikan upaya maksimal untuk menahan laju pelemahan mata uang rupiah," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp13.934 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp13.934 per dolar AS hingga Rp14.025 per dolar AS.

Saham

Hal  serupa juga terjadi di lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  ditutup melemah seiring kepanikan pasar terhadap dampak dari wabah virus corona atau COVID-19 yang makin meluas.

IHSG ditutup melemah 153,23 poin atau 2,69 persen ke posisi 5.535,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 29,9 poin atau 3,24 persen menjadi 892,76.

Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta mengatakan penyebaran COVID-19 secara agresif sepertinya masih memberikan dampak sistemik bagi pasar seiring dengan peningkatan tajam infeksi virus tersebut yang terjadi pada Korea Selatan, Italia dan Iran. "Penyebaran COVID-19 tersebut berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi global apabila masih belum ditemukan obat antivirusnya. Sehingga terjadilah kondisi 'panic selling'," ujar Nafan.

Di sisi lain, lanjut Nafan, perkembangan data-data makroekonomi domestik masih minim memberikan dampak yang besar terhadap pasar saat ini.