BREAKINGNEWS.CO.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah mengalami penurunan tajam  dan kembali menembus level psikogis Rp15.000 per dolar AS akibat terpaan sentimen negatif global dan domestik.

Mata uang garuda turun sebesar 218 poin atau 1,47 persen pada Senin (4/5/2020) menjadi Rp15.100 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.882 per dolar AS. "Pasar merespon perang kata-kata yang meningkat antara AS dan China mengenai asal virus Corona," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Senin (4/5/2020).

Para pejabat AS menyalahkan China atas wabah pandemi COVID-19. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan ada sejumlah besar bukti bahwa virus muncul dari laboratorium di kota Wuhan, China tengah.

Pernyataan itu kemudian diikuti ancaman Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan tidak akan memprioritaskan kesepakatan dagang dengan China.

Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2020 mengalami kontraksi 4,8 persen. Sementara itu, sekitar 30 juta orang di AS telah mengajukan klaim pengangguran dalam enam minggu terakhir.

Dari domestik, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April mencapai angka 27,5, jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5 dan menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011.

Laman Antaranews.com menulis indeks dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas, di bawah 50 artinya kontraksi, sementara di atas berarti ekspansi.

"Data terbaru tersebut menunjukkan kontraksi sektor manufaktur Indonesia yang semakin dalam, akibatnya kinerja rupiah semakin terpuruk," ujar Ibrahim.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memerangi COVID-19 dinilai menjadi penyebab kontraksi tersebut.

Sentimen domestik lainnya yaitu rendahnya laju inflasi April. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada bulan lali terjadi inflasi sebesar 0,08 persen.
Pergerakan inflasi tersebut dinilai tidak biasa dengan pola sebelumnya dimana tahun lalu masuk Ramadan jatuh pada Mei dan inflasi meningkat, namun tahun ini justru melambat.

COVID-19 ditengarai sebagai penyebabnya. Permintaan barang yang harusnya meningkat apalagi memasuki bulan puasa dan Idul Fitri, tidak terjadi.

Hal tersebut menjadi salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta penerapan PSBB di beberapa wilayah Indonesia.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah di posisi Rp14.960 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.960 per dolar AS hingga Rp15.133 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp15.073 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp15.157 per dolar AS.