BREAKINGNEWS.CO.ID - Kasus penganiayaan korban Erlina Sukiman dengan terdakwa Yenny Susanti, digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Sidang mengagendakan pembacaan dakwaan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Erwin Djong, SH, MH.

Sidang dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Renaldy berlangsung singkat, sekitar lima menit tanpa dihadiri pihak pelapor Erlina Sukiman dan kuasa hukumnya, Paulus Sinatra Wijaya, SH lantaran tidak adanya pemberitahuan.

Pembacaan dakwaan ini berjalan setelah dua kali sidang sebelumnya batal dilaksanakan oleh Majelis Hakim. Kuasa hukum pelapor justru mengetahui kalau sidang usai digelar melalui JPU Renaldy melalui telepon. "Hari ini pembacaan dakwaan, sidang akan dilanjut pekan depan pembacaan eksepsi," ujar Renaldi melalui sambungan telepon kepada wartawan, Kamis (28/3/2019).

Menurut Paulus, Yenny Susanti dan Erlina Sukiman adalah dua bertetangga dalam satu kawasan di  Perumahan  Casa  Jardin, Cengkareng,  Jakarta Barat. Blok E1 No. 2, Jl. Daan Mogot Raya KM. 11, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat – 11710;

Kasus penganiyaan yang menyeret Yenny Susanti terjadi pada Jumat, 13   April   2018. Yenny yang tinggal bersebelahan dengan Erlina, datang   menggedor-gedor pintu   kediaman Erlina.   

Yenny bermaksud   menegur Carolyn (anak   Erlina) yang sedang mengajar les piano, agar Carolyn menghentikan main pianonya dengan alasan anaknya sedang   sakit.   

Usai menegur Carolyn, Yenny kembali pulang ke rumahnya. Disampaikan Paulus, selama 1 tahun anak kliennya membuka les piano, Yenny kerap marah-marah. Alasannya, kegiatan les piano harus mempunyai izin dan di perumahan Casa Jardin tidak boleh buka usaha tersebut.

"Padahal tetangga yang lain juga gak ada yang komplain, lagi pula ruangan tempat les piano sudah dipasang peredam suara jadi tidak sampai keluar rumah suaranya," ujar Erlina menambahkan. 

Karena jengkel, puncak emosi Yenny dilampiaskan  dengan menampar pipi sebelah kiri wajah Erlina. Penganiayaan oleh Yenny itu dilakukan di pekarangan Erlina dan disaksikan Nurhayati, ibunya sebagaimana yang terekam dalam circuit closed television (CCTV) yang telah dijadikan barang bukti.