BREAKINGNEWS.CO.ID - Benny Tjokrosaputro, terdakwa dugaan kasus korupsi Jiwasraya, melontarkan tudingan kepada penyidik Kejaksaan Agung. Benny menuding bahwa tim penyidik sudah melakukan kesalahan dalam penyitaan dan pemblokiran sejumlah rekening bank dalam kasus tersebut.

Berdasar salinan eksepsi yang diperoleh Breakingnews.co.id dari kuasa hukum Benny Tjokro, Direktur Utama PT Hanson International Tbk itu menyampaikan, kesalahan penyitaan dan pemblokiran tersebut membuat dirinya merugi dan penyidik Kejaksaan Agung digugat praperadilan oleh penasihat hukum nasabah PT Asuransi Wanna Artha Life beberapa hari lalu ke Pengadilan.

"Hal itu membuktikan bahwa pihak Kejaksaan kurang hati-hati dan tidak teliti dalam melakukan penyitaan dan pemblokiran rekening bank dari pihak ketiga, termasuk yang saya alami dalam perkara ini," tutur Benny Tjokro dalam sidang pembacaan eksekpsi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2020).

Dalam eksepsinya, Benny juga mengkritisi aksi tim penyidik yang telah menyita sejumlah aset milik pribadi dan korporasi PT Hanson International Tbk yang dilakukan sejak periode 1990-2007.

Padahal, lanjut Benny dalam eksepsinya, kasus dugaan tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya terjadi pada rentang waktu 2008-2018.

"Bahkan ada aset tanah yang saya peroleh pada tahun 1990 yang ikut menjadi objek penyitaan oleh Kejaksaan. Di sini saya merasa menjadi korban pelanggaran HAM dan arogansi oknum Kejaksaan Yang Mulia," kata Benny dalam eksepsinya.

Tak Paham Isi Dakwaan

Dalam sidang pembacaan nota pembelaan tersebut, Benny juga mengaku bingung dan tak mengerti dengan surat dakwaan yang ia terima dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung.

Ketidakpahaman akan isi surat dakwaan diakui Benny karena ia tidak pernah belajar tentang hukum dan tidak pernah mengikuti pendidikan hukum. "Saya perlu sampaikan bahwa saya sangat sulit untuk mengerti isi surat dakwaan jaksa. Bapak ibu yang membawa surat dakwaan jaksa juga akan merasakan kebingungan yang sama," ujar Benny.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung mendakwa Direktur PT Hanson Internasional itu telah merugikan negara sebesar 16,8 triliun rupiah dalam kasus korupsi di PT Asuransi Jiwasraya. Perbuatan itu dilakukan bersama 5 terdakwa lainnya, yakni Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat, dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Tidak hanya itu perbuatan tersebut juga dilakukan bersama mantan petinggi PT Jiwasraya, yakni mantan Direktur Utama, Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan Hary Prasetyo dan eks Kepala Divisi Investasi, Syahmirwan. "Telah memperkaya diri atau orang lain, atau suatu korporasi yang merugikan keuangan negara sebesar 16,8 triliun rupiah," kata jaksa membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, (3/6) lalu.

Jaksa menuturkan Benny, Heru dan Joko melakukan kesepakatan dengan para petinggi Jiwasraya mengenai pengelolaan investasi saham dan reksadana milik perusahaan asuransi plat merah tersebut. Kerja sama pengelolaan dilakukan sejak 2008 hingga 2018.

Akan tetapi, menurut jaksa mereka melakukan kesepakatan itu secara tidak transparan dan akuntabel. Tiga petinggi Jiwasraya, Hendrisman Rahim, Hary dan Syahmirwan melakukan pengelolaan investasi tanpa analisis yang obyektif, profesional dan tidak sesuai nota interen kantor pusat. "Analisis hanya dibuat formalitas," kata jaksa.