JAKARTA - Sejumlah operator seluler turut angkat bicara terkait adanya temuan penyalahgunaan satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) dipakai untuk mendaftarkan sebanyak 2,2 juta nomor. Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh melaporkan adanya penyalahgunaan data tersebut. "Ini adalah contoh penyalahgunaan NIK yang paling ekstrem," ucap Zudan, Senin (9/4/2018).

Vice President Corporate Communications Telkomsel Adita Irawati menanggapi hal tersebut. Menurutnya, ada empat poin yang diupayakan oleh pihaknya dalam kasus tersebut. Pertama, Telokomsel selalu berupaya mengikuti aturan dan ketentuan yang berlaku. Pihaknya meyakini bahwa registrasi prabayar akan menyehatkan industri dalam jangka panjang serta memberikan perlindungan kepada pelanggan. "Kedua, sejak awal November 2017, dengan adanya dinamika terkait aspirasi outlet, BRTI menerbitkan Surat Edaran yang memperbolehkan satu identitas (NIK dan NoKK) milik outlet untuk registrasi lebih dari 3 (tiga) nomor perdana," katanya, Selasa (10/4/2018).

Selanjutnya, dalam poin ketiga, Adita menyebut jika dalam perkembangannya setelah Telkomsel melakukan evaluasi, pihaknya berinisiatif dalam menutup pendaftaran lebih dari tiga nomor tersebut pada Maret 2018. Adapun poin terakhir, sistem yang ada di Telkomsel tidak dapat mendeteksi adanya satu nomor identitas yang digunakan untuk melakukan registrasi ratusan ribu nomor SIM Card. "Karena semua registrasi langsung diteruskan ke Dukcapil. Setelah kami mendapatkan feedback dari Dukcapil, setiap nomor perdana yang terbukti melakukan penyalahgunaan identitas saat diregistrasi, telah kami lakukan pemblokiran," jelas Adita.

Seperti diberitakan sebelumnya, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Deva Rachman juga mengatakan jika pihaknya melaksanakan program registrasi prabayar sesuai dengan peraturan dan mekanisme yang telah ditentukan oleh pemerintah. "Terkait dengan anomali data 1 NIK yang digunakan untuk melakukan registrasi banyak nomor seperti yang disampaikan di RDP kemarin, kami telah melakukan pemblokiran terhadap nomor-nomor tersebut," sebut Deva.