Jakarta - Pemerintah resmi memberlakukan tarif taksi on-line (3011962 " ") berlaku pada 1 Juli 2017. Tarif ini adalah aplikasi dari Ketentuan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 26 Th. 2017 mengenai Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Tidak dalam Trayek.

Apabila membandingkannya, lebih mahal mana, tarif taksi on-line atau konvensional?

Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan menyebutkan, pemberlakuan tarif on-line itu tidak jauh berlainan dengan taksi konvensional. " Nyaris sama (tarifnya), " kata dia pada Liputan6. com, di Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Tarif taksi on-line terdiri untuk dua lokasi. Lokasi pertama terbagi dalam Sumatera, Jawa, serta Bali diputuskan tarif batas bawah Rp 3. 500 per km. (km) serta Rp 6. 000 untuk batas atas.

Lokasi ke-2, yaitu Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, serta Papua adalah Rp 3. 700 untuk batas bawah serta Rp 6. 500 per km untuk batas atas.

Ketetapan untuk taksi konvensional terutama di Jabodetabek merujuk pada Ketentuan Organda lewat Surat Pemberitahuan Nomor 038/DPD/ORG-DKI/IV/2016.

Dalam ketetapan itu, tarif buka pintu (flag fall) adalah Rp 6. 500 atau turun dari mulanya Rp 7. 500. Tarif per km. km Rp 3. 500 atau turun dari mulanya Rp 4. 000. Sesaat, tarif saat tunggulah jadi Rp 42 ribu dari mulanya Rp 48 ribu.

" Jadi dahulu tarif taksi kita per km Rp 4. 000. Lalu buka pintunya dahulu Rp 7. 500 namun telah di turunkan jadi Rp 6. 500, " kata dia.

Sesaat, dia menjelaskan, ada ketentuan ini memberi kesetaraan pada pebisnis. Lalu, memberi jaminan pada customer angkutan umum.

" Maksudnya apa yang diterbitkan oleh pemerintah, yaitu pertama untuk melindungi kesetaraan angkutan umum, persaingannya lebih sehat. Ke-2 melindungi kebutuhan customer, bila umum contoh bayar Rp 40 ribu-Rp 50 ribu, giliran peak hour Rp 150 ribu-Rp 200 ribu. Jadi tidak terjamin customer, walau sebenarnya ada perlindungan customer. Pemerintah melindungi itu semuanya, " tukas dia.