JAKARTA - Pemerintah Indonesia sedang berupaya menaikan pertumbuhan ekonomi dari segi industri non-migas, yang ditargetkan pada tahun 2018 bisa mencapai 5.67%. Kontribusi sektor industri nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional tergolong tinggi yakni mencapai 22%.

Seperti yang diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam Outlook Industri 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (11/12/2017). Di mana Indonesia masuk deretan negara dengan kontribusi industri terbesar pada struktur PDB, dibawah Korea, Cina dan Jerman serta jauh di atas negara-negara ASEAN lainnya.

Saat ini pelaku industri dengan pasar berada dalam jalur yang benar, hingga pertumbuhan tertinggi subsektor industri per triwulan III 2017 meliputi industri logam dasar 10,6%, industri makanan dan minuman 9,49%, industri mesin dan perlengkapan 6,35%, dan industri alat angkutan 5,63%.

Kemudahan berinvestasi di Indonesia yang membuat banyak investor atau pelaku industri asing berani menanamkan modal dan membangun industrinya di Tanah Air. Bahkan hal tersebut diakui secara global dan meraih kenaikan peringkat dalam ease of doing business (EoDB) 2018 dari posisi 91 menjadi 72. Hal ini dapat menciptakan perluasan lapangan kerja.

Kementerian Perindustrian Airlangga Hartanto, mendorong dalam penerapan sistem link and match, untuk membuat industri ikut dalam pengembangan pendidikan vokasi, sehingga siswa terdidik nantinya akan sesuai dengan kebutuhan industri.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Johnny Darmawan justru mengatakan, meskipun kontribusi industri terhadap PDB cukup tinggi, pertumbuhannya cenderung fluktuatif. Inkonsisten kebijakan ataupun regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

"Begitu banyak peraturan. Seharusnya pemerintah (lebih) konsisten. Misalnya, mau ada pendalaman industri di Indonesia, ya itu harus diberikan insentif yang konsekuen dan berpihak. Harapannya tentu industri bisa maju, tapi beberapa parameter itu harus jalan," kata Johnny.