BREAKINGNEWS.CO.ID – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional terus memburuk sepanjang Maret hingga Mei 2020. Hasil ini muncul dari hasil survey persepsi masyarakat di Indonesia yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia, lewat telepon, pada 16-18 Mei 2020.

Dari hasil survey itu menyatakan jika kondisi perekonomian nasional memburuk. Sebanyak 57,6 responden menyatakan buruk dan 23,4 menyatakan sangat buruk.  Dari data survey Februari 2020, yang mengatakan buruk dan sangat buruk hanya 24 persen namun bulan Mei 2020 mencapai 80 persen.

Mereka yang menyatakan buruk ini lebih banyak dari kalangan menengah. “Namun ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena pandemi global Covid-19 juga melanda semua negara,” kata Burhanudin Mutadi, Dirut Indikator Politik Indonesia.

Hanya saja, tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah pusat terhadap penanganan Covid-19 justru turun. Pada bulan Februari 2020 persepsi Kepuasan terhadap pemerintah pusat mencapai sekitar 70 persen. Namun setelah dilakukan survey pada Mei lalu turun menjadi 56 persen saja.

“Secara total yang menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah masih di atas 50 persen di bulan Mei meski turun jauh dibandingkan bulan Februari. Sementara yang menyatakan kurang puas juga naik, ini datang dari masyarakat yang memiliki pendidikan baik,” kata Burhanudin Mutadi. Ini harus diwaspadai karena warga kelas menengah bisa memobilisasi ketidakpuasan itu ke kelas lain.

Menurut Burhanudin ini tiga tafsir. Pertama kepuasan terhadap Jokowi dipisahkan terhadap kepuasan terhadap pemerintah pusat. Kedua, penurunan ekonomi itu bukan salah Jokowi karena lebih disebabkan pandemi global. Ketiga karena ada efek partisan dari pendukung Jokowi yang tetap mempersepsinya baik selama memimpin.  

Namun ada pula efek partisan dari pendukung Jokowi dan Prabowo Subianto dari Pilpres 2019. Kebanyakan yang menyatakan puas terhadap pemerintah ini adalah dari pendukung Jokowi.

“Meski kondisi ekonomi nasional itu buruk, namun masyarakat tidak lantas menyalahkan pemerintah. Karena terbukti Kepuasan terhadap pemerintah pusat masih di atas 50 persen,” ucap Burhanudin.

Hal ini menimbulkan spekulasi jika masyarakat masih percaya terhadap Jokowi namun tidak kepada para pembantunya di pemerintah pusat seperti para menteri. Ini menimbulkan  spekulasi tentang adanya reshuffle kabinet.

Dalam survey yang dilakukan untuk kondisi ekonomi rumah tangga, lagi-lagi banyak responden menyatakan kondisi ekonomi rumah tangga mereka memburuk. Sebanyak 83,7 persen responden menyatakan kondisi ekonomi rumah tangga mereka pada Mei buruk, sementara di bulan Februari yang menyatakan buruk hanya 39 persen.

Hal itu juga terhubung dengan pernyataan respoden sebanyak 86 persen menyatakan pendapatannya turun pada bulan Mei 2020. Trend tersebut sudah berlangsung sejak bulan Maret 2020. “Bisa saja kondisi hari ini sudah 90 persen yang menyatakan kondisi ekonomi rumah tangga mereka betul-betul terpukul,” tambah Burhanudin. Survey tentang ekonomi itu berlaku sama antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo Subianto dari Pilpres 2019.

Demokrasi Menurun

Sementara Demokrasi tidak diuntungkan selama pandemi Covid-19  karena persepsi Kepuasan publik terhadap jalannya demokrasi menurun hingga 32 persen. “Ini tentunya menjadi tantangan bagi pemerintah dan partai politik agar jangan sampai masyarakat itu memiliki pilihan lain selain demokrasi,”

Menyikapi pemilu 2024, tidak ada partai politik yang diuntungkan, sebaliknya ada figur-figur tertentu yang diuntungkan karena mendapatkan panggung seperti para kepala daerah yang langsung tampil dalam kebijakan penanganan covid.

“Saya melihat Golkar memang turun, 0,3 persen dari survey itu. Namun jika dibandingkan dengan partai lain maka penurunan Golkar yang paling kecil<’ kata Nurul Arifin.

Ridwan Kamil Gubernur Jabar, mendapat kepercayaan tinggi dari masyarakat karena meningkat sekitar 4 persen. Begitu pula dengan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta mengalami sedikit penurunan.

Masyarakat juga menyatakan jika kesehatan harus lebih diprioritaskan sebanyak 60,7 persen sementara yang meminta ekonomi diprioritaskan hanya 33,9 persen.

Survey persepsi Indonesia Indikator ini menggunakan margin error sebesar 2,9 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan dilakukan 16-18 Mei 2020. Survey diambil dari data set yang dimiliki oleh Indikator Politik. Data diambil dari dua tahun terakhir, Maret 2018 hingga Maret 2020.

Dari data set itu terdapat 206 ribu lebih responden. Dari jumlah itu sebanyak 70 persen memiliki hp. Kemudian dari jumlah itu dipilih secara acak 5408 data, kemudian diacak lagi menjadi 1200 responden.