BREAKINGNEWS.CO.ID - Penurunan suku bunga sebesar 02,5 persen pada bulan ini diyakini tak akan berdampak pada investasi di dalam negeri. Pendapat ini muncul dari Bank Indonesia. Bahkankeputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Rabu (17/7/2019) tak akan membuat arus modal terbang keluar. Namun penurunan suku bunga acuan ini juga mengakibatkan imbal hasil investasi portfolio di Indonesia turun.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo keyakinan itu didasarkan pada jarak (spread) imbal hasil obligasi pemerintah dengan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) masih cukup lebar. Jarak itu membuat potensi arus modal keluar diharapkan tidak akan terjadi.

Pada Januari lalu, imbal hasil obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun tercatat 8,05 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tercatat 2,63 persen. Artinya, terdapat spread sebesar 5,42 persen poin. Namun saat ini, imbal hasil pemerintah untuk tenor 10 tahun 7,14 persen sementara obligasi pemerintah AS sebesar 2,06 persen, sehingga menimbulkan spread sebesar 5,08 persen poin.

Dengan spread yang relatif tidak berubah, Perry tidak khawatir akan ada arus modal keluar dari Indonesia. "Kami meyakini penurunan suku bunga masih bisa memberikan imbal hasil yang menarik bagi investasi. Dengan kebijakan spread di kisaran 5 persen, dan kebijakan moneter yang masih akomodatif, kami yakin imbal hasil investasi dalam negeri masih menarik," ungkap Perry, Kamis (18/7/2019).

Tak hanya spread yang masih lebar, Perry mengatakan bahwa investor juga melihat risiko investasi di Indonesia yang tercermin dalam rasio Credit Default Swap (CDS). Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi.

Sebaliknya, jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga makin rendah. Perry mengatakan, kini skor CDS sudah berada di kisaran 80.

Padahal hingga awal Juni lalu, skor CDS masih berada di level 103. Artinya, persepsi investor terhadap SBN masih cukup baik. Apalagi, lembaga pemeringkat Standard and Poor (S&P) menaikkan peringkat surat utang RI dari BBB- menjadi BBB akhir Mei lalu.

Hal ini pun, lanjut dia, terkonfirmasi dari arus modal masuk dalam bentuk transaksi SBN hingga akhir Juni sebesar Rp98,5 triliun. "Dengan fakta-fakta tadi, investor asing masih memperhitungkan premi risiko investasi yang masih menarik di Indonesia," jelas dia.

Dengan demikian, ia masih yakin transaksi modal dan finansial masih bisa tetap surplus sepanjang tahun ini. Bahkan, surplus tersebut juga diprediksi bisa menutupi defisit transaksi berjalan yang masih menghantui Indonesia. Walhasil, Perry mengatakan neraca pembayaran masih bisa surplus.

"Secara keseluruhan, dalam keseluruhan tahun, stabilitas eksternal dalam bentuk neraca pembayaran untuk 2019 ini akan terkendali. Untuk neraca berjalan, defisitnya akan ada di angka 2,5 persen hingga 3 persen sementara surplus neraca modal besar sehingga secara keseluruhan (neraca pembayaran) ini terkendali," tutur dia.

BI resmi menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps ke posisi 5,75 persen pada Kamis ini. Tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility juga diturunkan 25 bps ke level 5 persen dan 6,5 persen.