BREAKINGNEWS.CO.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyambut baik kenaikan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate", hingga 50 basis poin menjadi 5,25 persen, sebagai langkah antisipasi untuk membendung tekanan global. "Kalau soal harus naik, semua orang sudah tahu. Tidak ada cara lain. Tidak naik, ketinggalan. Orang lain naik, itu akan membuat capital flight. Kami sambut apa yang dilakukan BI," kata Darmin di Jakarta, Jumat.

Darmin menyakini kenaikan suku bunga acuan tersebut untuk merespon berbagai perkembangan dunia saat ini mulai dari kenaikan suku bunga The Fed, potensi perang dagang dan kondisi geopolitik terkini.

Berbagai tekanan global tersebut telah menjadi alasan terjadinya perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun penurunan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa minggu terakhir.

Meski demikian, ia mengharapkan kenaikan suku bunga acuan ini tidak langsung disertai oleh penyesuaian tingkat bunga kredit di perbankan agar tidak memberatkan kegiatan usaha di sektor riil yang selama ini menjadi pendukung utama perekonomian. "Sebenarnya ini tidak mudah, tapi OJK sebenarnya bisa mendorong agar jangan buru-buru menaikkan bunga kredit. Kurangi sedikit margin bunga kredit. Walaupun itu tidak bisa dipaksa-paksa, karena itu banknya dia," ujar mantan Gubernur BI ini.

Darmin menilai pemerintah juga telah berupaya untuk mengatasi ancaman gejolak eksternal tersebut melalui perbaikan defisit neraca transaksi berjalan yang selama ini menjadi penyebab domestik terjadinya perlemahan rupiah.

Salah satu upaya itu adalah dengan memperbaiki daya saing usaha dan memperkuat sektor investasi, terutama dalam bidang ekspor yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja perdagangan internasional. "Terutama kemudahan perizinan supaya investasi banyak yang masuk. Syukur-syukur investasinya di bidang yang melakukan ekspor, karena selama dua tiga tahun ini, investasi masuk lebih banyak yang menjual ke dalam," ujarnya.

Rapat Dewan Gubernur

Sebelumnya, Bank Indonesia secara resmi menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" hingga 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen  pada Rapat Dewan Gubernur 28-29 Juni 2018.

Langkah itu diambil guna membendung tekanan ekonomi eksternal terhadap perekonomian domestik, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Ini kebijakan moneter lanjutan yang `pre-emptive` (antisipatif), ahead of the curve` (selangkah lebih maju) dan front loading," kata Gubernur BI Perry di Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Kenaikan suku bunga acuan adalah salah satu instrumen untuk memperkuat nilai rupiah. Kenaikan suku bunga acuan bisa menaikan suku bunga simpanan bank sehingga masyarakat diharapkan lebih suka memegang rupiah. Namun kebijakan ini biasanya juga diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit perbankan.

Dalam beberapa hari terakhir ini ini nilai rupiah terus melemah bahkan mendekati Rp14.400 per dolar AS. Saat ini nilai tukar rupiah dolar Amerika Serikat jauh dari asumi APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar Amerika Serikat.