BREAKINGNEWS.CO.ID - Sepekan pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, sebanyak 105 kantong jenazah potongan tubuh penumpang korban berhasil ditemukan. Kantong-kantong potongan tubuh korban Lion Air JT-610 selanjutnya diidentifikasi RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

Kantong jenazah berisi potongan tubuh itu langsung dibawa menuju RS Polri Kramatjati. Tim DVI Polri telah berhasil mengidentifikasi tujuh korban pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK-LPQ. Jenazah pertama yakni yang berhasil diidentifikasi adalah Jannatun Cyntia Dewi. Jannatun berhasil diidentifikasi pada Rabu (31/10/2018) lewat sidik jari dan cincin emas yang melingkar di jarinya.

Sementara, pada Jumat (2/11) ada 3 jenazah korban Lion Air yang berhasil teridentifikasi. Mereka adalah Candra kirana yang teridentifikasi dari sepatu, Monni yang diketahui lewat adanya tato di punggungnya, dan Hizkia Jorri Saroisong yang teridentifikasi lewat sidik jari.

Adapun pada Sabtu (3/11) ada sebanyak 3 jenazah yang telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Endang Sri Bagusnita yang teridentifikasi dari sidik jari dan tanda medis, Wahyu Susilo yang teridentifikasi melalui sidik jari, tanda medis dan properti yang digunakan yakni jaket dan baju. Terakhir Fauzan Azima yang teridentifikasi melalui sidik jari dan medis.

Terpisah, Investigator Kecelakaan Penerbangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Ony Soerjo Wibowo mengaku belum bisa menyebut apakah pesawat Lion Air JT-610 sempat meledak di udara atau tidak sebelum jatuh.

"Modus kecelakaannya kita masih belum tahu apakah meledak di udara atau meledak di laut. Tetapi, dari tanda-tanda yang kita dapatkan kalau misalkan ini meledak di udara, pesawat punya kecepatan tertentu seharusnya skalanya (serpihan bangkai pesawat) akan sangat luas, sangat luas bisa dilihat sangat relatif karena kecepatan pesawatnya. Tetapi, kita dapatkan saat ini sebaran yang ada berada pada area yang cukup sempit," ujar.

Meski serpihan bangkai pesawat tak menyebar jauh, dia juga belum mau berasumsi kalau pesawat berarti meledak saat jatuh ke air. Ia minta untuk menunggu hasil investigasi rampung.

Sebelum pesawat JT-610 terbang, pesawat sempat dicek dulu kesiapannya lantaran disebut mengalami kendala. Terkait hal itu, Ony menyebut untuk itulah NTSB Amerika Serikat dan pihak Boeing ikut membantu investigasi guna mengungkap kebenaran sebenarnya apakah pesawat rusak sebelum berangkat atau bagaimana.

"Inilah adanya rekan-rekan kita dari NTSB hadir di sini yang mana rekan-rekan NTSB membawa teman-teman dari Boeing, dari engine, dari authority mereka yang semuanya akan kita manfaatkan semakismum mungkin sehingga kita bisa mengetahui kenapa kecelakaan itu terjadi," katanya.

Terkait laporan hasil investigasi secara menyeluruh KNKT belum bisa memastikan kapan rampungnya. Namun, diharap hal itu bisa dilakukan secepat mungkin meski dalam peraturan internasional dan nasional menyebut KNKT punya waktu setahun lamanya.