JAKARTA - Suara erotik sebagai ekspresi reaksi seksual memang dapat menjadi rangsangan seksual yang bersifat psikis. Dengan mendengarnya, seseorang dapat lebih terangsang. Tapi tak semua orang memahami bahwa suara pun dapat berperan seperti itu. Selain tidak memahami, tak sedikit orang yang justru berupaya menahan agar tidak muncul suara.

Beberapa bentuk ekspresi suara berkaitan dengan reaksi seksual ialah rintihan kenikmatan, teriakan, dan ucapan yang ekspresif. Ekspresi suara sebenarnya juga merupakan bentuk komunikasi seksual non verbal. Dengan suara itu pasangan dapat mengetahui bahwa suatu reaksi seksual sedang terjadi.

Perbedaan pada wanita dalam mengekspresikan reaksi seksual tampaknya dipengaruhi oleh faktor budaya, komunikasi dengan pasangan, dan pengetahuan seksual; bukan faktor etnik. Wanita dengan pemahaman budaya bahwa dirinya hanya pelayan dan pemuas suami, sangat mungkin merasa malu atau tidak patut menunjukkan reaksi seksualnya secara ekspresif, termasuk suara. Mereka justru menyembunyikan bahwa dirinya mengalami reaksi seksual, apalagi orgasme.

Sebaliknya wanita dengan budaya yang menganggap diri setara dengan pria, tidak punya hambatan mengekspresikan reaksi seksualnya. Mereka merasa wajar dan berhak, sama seperti pria, untuk menikmati kehidupan seksual. Kalau komunikasi dengan pasangan tidak baik atau tidak bebas, sangat mungkin wanita juga merasa tidak bebas untuk mengekspresikan reaksi seksualnya, dan cenderung menyembunyikan reaksi seksual yang dialami. Lain jika komunikasi dengan pasangan baik, wanita akan merasa bebas untuk mengekspresikan reaksi seksualnya. Suara erotik merupakan bentuk komunikasi seksual yang efektif untuk mencapai kepuasan seksual.

Wanita dengan pengetahuan seksual baik, bahwa suara erotik bermanfaat, tidak akan membiarkan begitu saja manfaat itu. Bahkan dengan pengetahuan itu, mereka secara sadar menggunakan suara untuk meningkatkan suasana erotik ketika melakukan hubungan seksual.