Pada suatu hari ketika sedang menjemur pakaian, suamiku tiba-tiba bilang, "Istriku….. Aku mau minta cerai..…". Tampangnya sangat serius, tidak seperti bercanda. Tanganku langsung terhenti, pikiranku kosong, tidak jadi menjemur pakaian, kududuk dan kudengar apa yang ingin dia katakan.

Saat itu, yang pertama muncul di pikiranku, "Ada apa ini? Apa sahamnya bangkrut? Atau jangan-jangan kena penyakit apa!?" Dalam hati, aku sudah siap untuk menanggungnya bersama suamiku, apapun itu.

Tapi, apa yang ia ucapkan berikutnya membuatku seperti merasa disambar petir....

"Istriku….. Aku jatuh cinta pada wanita lain."

"...............!!!!!" Tidak, aku tidak percaya! Dengan sekuat tenaga kutahan emosiku yang hampir meledak.

Dia bilang, "Sudah dari setengah tahun yang lalu, pas liburan satu kantor… Dia seorang tour guide, baru lulus tidak lama dari universitas, orangnya baik, polos……." Tiba-tiba sadar ia terus memuji wanita itu, Ia berhenti berbicara dan menatapku dengan wajah bersalah.

Sambil meneteskan air mata, kutanya padanya, "Kamu cinta pada wanita itu...?"

"Cinta sekali."

"Benar kamu mencintai wanita itu, lebih daripada aku istrimu!!??"

Dia tidak berani menjawab dan aku tahu apa jawabannya...

Aku menghembuskan nafas, "Ya sudah, lakukan sesuka hatimu… Akhirnya ada orang yang membebaskanku dari pria tak berguna seperti kamu, harusnya aku berterima kasih!"

Dia langsung menatapku dengan wajah bingung, ia tidak menyangka reaksiku begitu tenang dan langsung menyetujui perceraian ini.

Sehari sebelum menandatangani surat perceraian, ia mengajakku makan malam bersama, yang sebenarnya aku tak ingin pergi, tidak ingin melihat wajahnya lagi.

Ia minum beberapa gelas kemudian mabuk, ngomongnya juga makin ngaco, ia bilang: "Istriku…. Doakan kami ya..." Ia bahkan memuji-muji selingkuhannya itu di depanku.

Aku yang sedikit terpengaruh alkohol juga tiba-tiba jadi bernyali besar. Kutumpahkan seluruh isi hatiku yang paling dalam, yang kupendam selama ini, sejak hari pertama kita menikah. 

"Mulai saat ini, aku bukan lagi pembantu gratismu yang tidak pernah kamu bayar sepeser pun!!" Kukatakan satu per satu dengan jelas, "Aku tidak perlu lagi mencuci bajumu, merapikan tempat tidurmu, memasak untukmu. Aku bisa pergi belanja baju bagus untukku sendiri dan makan enak diluar! Pas kamu mabuk, aku juga tidak perlu khawatir lagi nungguin kamu pulang sampai larut malam!"

"Cerai? Bagus sekali!! Hahaha!!!" Pertama kalinya ku merasa begitu lega, bebanku seakan-akan lenyap dalam sekejap. Dia seperti menyadari adanya kebenaran dalam perkataanku, ia mulai gugup dan berkata, "Kamu sudah mabuk! Ayo aku antar pulang sekarang!"

Tapi, aku belum selesai ngomong! Enak aja dia bisa selingkuh di luar sana, sedangkan aku? Emosiku memuncak, "Kamu pikir aku kurang cantik? Sudah nenek-nenek? Ingat yah, dulu aku memberikan masa mudaku yang paling cantik, yang paling berharga untukmu! Setelah menikah denganmu, aku sampai tidak tega membeli satu pun baju baru untukku sendiri karena pikir nanti anak-anak mau masuk sekolah butuh biaya!"

"Kamu pikir dia sekarang muda dan cantik, coba lihatlah 10 tahun lagi! Kamu akan mengulangi hal yang sama!"

"Kamu pikir setelah kita menikah, aku jadi kurang memperhatikanmu!? Coba sadar!! Setelah menikah, aku harus mengurus anak, mertua, juga orang tuaku sendiri! Kamu pikir mereka tidak butuh perhatianku juga!? Kamu kira cintaku padamu berkurang, tapi sebenarnya aku telah memberikan seluruh hatiku padamu, setiap hari mengurusimu, walau aku sendiri merasa lelah"

Kata-kataku seakan-akan menjadi tamparan keras baginya. Keesokan harinya, ia membatalkan perceraian. Aku bertanya kenapa, ia berkata: "Kata-katamu semalam membuatku sadar. Aku tahu aku salah. Maafkan aku yang selama ini tidak pernah menghargai apa yang sudah kamu lakukan untukku dan keluarga ini."

"Aku hampir menghancurkan keluarga yang sudah kita bangun dengan susah payah, dengan tanganku sendiri. Istriku, aku minta maaf…."


Para suami, coba lihatlah istri kalian sendiri. Di belakang setiap suami, ada seorang istri yang setiap hari selalu diam-diam mendukung dan mencurahkan tenaganya demi keluarga. Lantas, apa yang telah kalian lakukan untuknya?

Sumber: BH

Tag