BREAKINGNEWS.CO.ID – Awal pekan ini harga minya sempat melemah karena ketidakpastian dan perang dagang AS-Cina. Swelain itu juga disebabkan sentiment menumpuknya pasokan minyak dari Iran. Namun pertengahan pekan ini, harga minyak mentah dunia kembali naik. Ini terlihat pada akhir perdagangan Selasa (27/8/2019), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan harga tersebut dipicu oleh ekspektasi berkurangnya persediaan minyak mentah AS tahun ini.

Menurut Reuters, Rabu (28/8/2019), harga minyak mentah Brent menguat US$0,81 atau 1,4 persen menjadi US$59,51 per barel. Penguatan yang sama terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) US$1,29 atau 2,4 persen menjadi US$54,93 per barel.

Selanjutnya saat perdagangan pascapenutupan (post-settlement), harga berlanjut dan mengalami penguatan, seperti Brent yang menyentuh level US$59,88 per barel dan WTI US$55,45 per barel. Penguatan tersebut muncul pasca Institut Perminyakan Amerika (IPA) mengumumkan data tentang penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Pekan lalu, persediaan minyak mentah AS merosot tajam sebesar 11,1 juta barel seiring penurunan impor. Semula, penurunan diperkirakan hanya akan berkisar 2 juta barel. Data resmi akan dirilis pemerintah AS pada Rabu (28/8), waktu setempat. Namun penguatan harga minyak mentah pada awal pekan dibatasi oleh kekhawatiran terhadap resesi dan ketidakpastian kesepakatan perdagangan AS-China.

Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger menilai berkurangnya pasokan di tengah aktivitas pengolahan kilang yang tinggi berujung pada penguatan harga minyak. Hal itu mampu melampaui efek dari kekhawatiran terhadap tensi perdagangan yang dapat menekan permintaan.

Selama sesi perdagangan berlanjut, pasar minyak bergerak fluktuatif sebagai respons atas pergerakan indeks saham Wall Street yang sempat tertekan oleh jatuhnya saham sektor keuangan.

Kekhawatiran akan ada resesi AS juga membayangi optimisme awal tentang penyelesaian sengketa datang yang berlarut-larut pada dua perekonomian terbesar dunia.

Sementara pada Senin (26/8/2019), Presiden AS Donald Trump menyatakan ia meyakini kesungguhan China untuk mencapai kesepakatan. Wakil Perdana Menteri China Liu He juga menyatakan China berkeinginan untuk menyelesaikan sengketa melalui negosiasi yang tenang.

Namun, pada Selasa (27/8/2019), kekhawatiran mengenai perdagangan kembali mengemuka setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan belum mendengar pembicaraan telepon apapun antara China dan AS terkait perdagangan. Ia berharap AS menghentikan aksinya yang salah dan menciptakan kondisi untuk berbicara.

Hingga kini, harga minyak mentah di China telah merosot 20 persen dari level tertingginya pada April 2019. Kondisi itu sebagian disebabkan oleh kekhawatiran terhadap perang dagang AS-China yang menyakiti perekonomian global dan berujung pada turunnya permintaan minyak.

Pekan lalu, Kementerian Perdagangan China menyatakan bakal mengenakan tarif tambahan sebesar 5 persen atau 10 persen terhadap 5.078 produk yang berasal dari AS, termasuk minyak mentah, produk pertanian dan pesawat kecil.

Sebagai balasan, Trump meminta perusahaan AS untuk mencari cara menutup operasionalnya di China dan melakukan kegiatan produksi di AS. "Optimisme pasar hanya akan muncul saat tinta pada perjanjian dagang baru AS-China mengering," ujar Broker Minyak PVM Tamas Varga.