BREAKINGNEWS.CO.ID – Indonesia harus memanfaatkan secara maksimal bonus demografis yang tak beberapa lama lagi akan tiba. Pasalnya, dengan pemanfaatan secara lebih baik, dominasi penduduk produktif yang dimiliki akan berdampak  positif secara langsung untuk   masyarakat serta perekonomian.

Berbicara pada Seminar Hari Oeang, mantan dirut pelaksanana Bank Dunia mengatakan, pertumbuhan ekonomi oleh satu negara juga  ditentukan oleh konfigurasi jumlah penduduk yang dimiliki. "Syaratnya tentu demografinya, terutama generasi muda, harus memiliki kualitas," kata Sri Mulyani di Jakarta  Rabu (31/10/2018).

Ia menyebutkan, investasi di bidang sumber daya manusia seperti pendidikan dan kesehatan menjadi kunci untuk mewujudkan penduduk muda yang berkualitas. Selain itu juga, program dan upaya dari pemerintah untuk focus pada upaya memotong tali kemiskinan supaya penduduk yang berasal dari kelompok keluarga miskin tidak kemudian menjadi miskin juga. "Karena itu kebijakan di bidang pendidikan yang sudah dimandatkan 20 persen, bidang kesehatan, dan bidang jaring pengaman sosial itu untuk mempersiapkan bonus demografi menjadi sesuatu yang bisa memberikan dampak positif," kata Sri Mulyani.

"Populasi di Indonesia terdiri dari usia yang relatif muda dan kalau kita membuat proyeksi berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduk, kita tahu Indonesia akan terus menjadi negara dengan komposisi generasi mudanya masih akan dominan. Ini yang disebut bonus demografi.

Pada bagian lain, Sri juga berbicara tentang sistim jaminan social berkelanjutan yang mesti dibuat. Karena system itu diperuntukkan untuk menghadapi populasi yang menua (aging population). "Artinya kelompok yang tadinya milenial ini nantinya akan jadi senior citizen juga, dan pada saat itu mereka membutuhkan fasilitas kesehatan dan lain-lain," kata Sri Mulyani.

 

Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menyebutkan Indonesia tidak akan kekurangan tenaga kerja dan pasar hingga 2050. "Penduduk Indonesia sekitar 60 persen sampai 2050 adalah penduduk usia kerja atau working age sehingga Indonesia tidak akan kekurangan pasar dan tenaga kerja," ujar dia.