JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) merespon terkait rencana pernikahan remaj berusian 14 tahun di Bantaeng Sulawesi Selatan (Sulsel), menurutnya pengadilan yang mengabulkan pernikahan dua remaja sejoli tersebut pasti telah memiliki pertimbangan yang matang.

Kedua remaja tersebut sempat mengajukan permohonan perkawinan kepada KUA setempat. Namun pihak KUA menolak dengan alasan usia mereka masih terlalu dini. Akhirnya, pihak KUA mengeluarkan N9 atau penolakan pencatatan. Kendati demikian, usaha mereka untuk mewujudkan keinginanya tak berhenti disitu. Dengan bantuan keluarga, mereka mengajukan permohonan dispensasi ke Pengadilan Agama Bantaeng. Namun permohonan tersebut dikabulkan sehingga pihak KUA tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pernikahan tersebut. "Ya kalau pengadilan mengabulkan, pasti dengan pertimbangan matang," ujar Kepala Biro Humas Kemenag Mastuki, Sabtu (14/4/2018).

Ia mengatakan, merujuk pada UU Perkawinan No 1/1974, dalam pasal 7, disebutkan syarat usia perkawinan ditetapkan untuk calon pria 19 tahun dan calon wanita sudah berusia 16 tahun. "Jika calon kedua mempelai atau salah satu calon tidak/belum memenuhi usia tersebut, mereka bisa mengajukan dispensasi ke pengadilan melalui orang tua pihak pria atau pihak wanita. Jika pengadilan mengabulkan permohonan mereka, perkawinan dapat dilangsungkan," kata Mastuki.

Seperti diberitakan sebelumnya, kedua remaja tersebut saat ini masih belum resmi menikah. Mereka harus menjalani bimbingan sebelum acara pernikahan tersebut dilangsungkan. Namun, banyak pihak yang mendorong agar KUA nantinya tidak memberikan surat nikah. Pasalnya, hal tersebut dikhawatirkan dapar memicu banyak pernikahan dini.

Atas pernyataan tersebut, Kemenag sendiri tik sependapat dengan anggapan tersebut. "Ya tidak otomatis. Kan itu kasus per kasus, yang pasti pengadilan sudah mempertimbangkan maslahat dan mafsadatnya. Dan UU memang memberi exception seperti itu," ujar Mastuki.