BREAKINGNEWS.CO.ID - Calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin mengaku prihatin atas kejadian pembantaian 31 pekerja proyek Trans Papua di Nduga, Papua, Minggu (2/12). Dia menilai, pengaman harus lebih diperketat lagi di sekitar kejadian maupun di Papua, umumnya. "Saya prihatin ada penembakan. Ini memang harus dihentikan, supaya tidak terjadi lagi. Pengamanan harus diperketat kepada warga, masyarakat. Papua harus diketatkan pengamanannya. Karena ini sifatnya perlindungan terhadap warga bangsa,' kata Ma'ruf kepada wartawan di kediamannya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Ma'ruf lalu menilai langkah yang diambil Presiden Jokowi yang mengatakan bawha meski ada persitiwa tersebut, pembangunan di Tanah Papua tetap berlanjut. "Tetapi jangan sampai adanya penembakan ini menimbulkan kemudian pemerintah jangan berhenti membangun, mungkin sementara selama terjadi tidak masalah, tetapi pembangunan harus berjalan terus," ucapnya.

Bagi Ma'ruf, pembangunan di Papua sangat penting dilakukan untuk menghilangkan disparitas antar daerah. Karena, menurut dia, kesenjangan itu yang selama ini menjadi hambatan dalam membangun negara ini. "Pemerintah harus melanjutkan, karena itu penting bagi rakyat Papua, pemerataan, fasilitas kepada masyarakat dan juga untuk menghilangkan kesenjangan antar daerah terutama di daerah Papua," ujar Ma'ruf.

Lebih lanjut, menurut Ma'ruf, dialog selaku terbuka untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Namun, kata dia, tentu ada batasannya jika menyangkut Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). "Saya kira dialog itu selalu terbuka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Dan tentu ada batasan-batasannya dalam kerangka NKRI. NKRI itu harga mati," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Polda Papua AKBP Suryadi Diaz membenarkan informasi 31 orang pekerja dari PT Istaka Karya (BUMN) yang melakukan pembangunan jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak, Kabupaten Nduga, tewas.

Diduga, 31 orang ini tewas dibunuh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Ia merinci, 24 orang dibunuh pada hari pertama, kemudian 7 orang lainnya juga mengalami hal yang sama. Sementara, satu orang belum ditemukan, diduga melarikan diri. "Sebanyak 31 orang meninggal dunia, 24 orang dibunuh hari pertama, 8 orang yang selamatkan diri di rumah anggota DPRD dijemput, dan dibunuh 7 orang meninggal dunia. Satu orang belum ditemukan atau melarikan diri,” ujar Suryadi Diaz dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/11).