BREAKINGNEWS.CO.ID – Terkait dengan pemadaman listrik yang membuat jutaan warga Venezuela sengsara sejak Kamis (7/3/2019) pekan lalu, pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, kembali menyerukan demonstrasi besar-besaran pada Selasa (12/3/2019).

"Besok jam tiga sore, semua warga Venezuela akan turun ke jalan," ujar Guaido di hadapan Majelis Nasional pada Senin (11/3), sebagaimana dikutip AFP. Guaido menyebut listrik padam ini bagai bencana bagi Venezuela yang saat ini sedang dalam krisis. Ia bahkan mengklaim belasan orang tewas akibat pemadaman listrik tersebut.

Belasan pasien memang dilaporkan meninggal dunia karena peralatan rumah sakit tidak dapat berfungsi di tengah listrik yang padam. Guaido mengatakan bahwa apabila listrik terus padam, kebutuhan dasar rakyat, seperti makanan, transportasi, dan komunikasi akan terganggu.

"Tak ada yang normal di Venezuela dan kami tidak akan membiarkan tragedi ini menjadi hal normal," kata Guaido sambil mengumumkan situasi darurat. Menurut pemimpin oposisi yang mendeklarasikan diri sebagai presiden interim (sementara) Venezuela itu, listrik padam ini adalah "produk korupsi dan ketidaklayakan rezim."

Akan tetapi, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengatakan bahwa listrik di negaranya padam karena ada upaya sabotase dari Amerika Serikat. Listrik di Venezuela kerap kali padam karena kekurangan investasi pemerintah di bidang infrastruktur. Pemerintah sering menuding ada upaya sabotase, akan tetapi tidak pernah menyebut pihak yang mereka anggap sebagai dalangnya.

Tahun 2018 lalu, Maduro meminta angkatan bersenjata menjaga generator di Guri, namun listrik tetap sering padam. Situasi ini dianggap sebagai kemunduran karena sebelumnya, Guri dianggap sebagai salah satu pembangkit listrik paling kuat di Amerika Latin. "Kita pernah punya sistem listrik paling baik di dunia, paling kuat. Mereka yang kini memerintah menghancurkannya," kata presiden asosiasi insinyur listrik profesional, Winston Cabas.