BREAKINGNEWS.CO.ID – Kesepakatan damai dari kubu konservatif Kanselir Jerman, Angela Merkel hancur berantakan, usai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jerman membela aksi protes yang diwarnai dengan kekerasan Neo-Nazi dan dia menyatakan imigran sebagai "induk dari semua masalah politik".

Serangan dari dalam kubu Merkel ini terjadi hanya dua bulan setelah Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer mengancam untuk membubarkan koalisi pemerintahan Merkel akibat masalah perbatasan. Masa-masa tenang selama masa liburan beberapa waktu terakhir pecah pada akhir Agustus ketika pria Jerman berusia 35 tahun tewas ditusuk di kota Chemnitz. Tiga pencari suaka, dua asal Irak dan satu dari Suriah, menjadi tersangka pelaku pembunuhan ini.

Kelompok-kelompok ekstrim kanan serta beberapa ribu warga setempat turun ke jalan selama berhari-hari setelah pembunuhan itu. Mereka pun memberi penghormatan Nazi dan sejumlah orang berwajah asing menjadi korban serangan. Sebagai menteri dalam negeri, Seehofer didesak untuk mengecam aksi pengunjuk rasa yang juga menyerang wartawan dan polisi. Dia tidak melakukannya hingga wawancara pada Kamis (6/9/2018), ketika dia dengan keras membela para pengunjuk rasa walaupun mengkritik gangguan pada perdamaian.

"Ada pergolakan dan kemarahan masyarakat atas pembunuhan itu yang bisa saya mengerti," ujar Seehofer kepada harian Rheinische Post. "Apabila saya bukan menteri, saya juga akan turun ke jalan sebagai warga negara, tentu saja dengan kelompok radikal." Seehofer menegaskan dia "tidak mentolerir pihak yang memanfaatkan situasi ini dengan menyerukan kekerasan atau melakukan kekerasan, termasuk juga kepada polisi." "Ini benar-benar tidak bisa diterima, tidak ada zona abu-abu di sini," ujarnya.

Akan tetapi Seehofer yang merupakan pengkritik utama kebijakan liberal Merkel terhadap pengungsi dalam koalisi pemerintah, mengemukakan simpati dengan kemarahan yang membakar para pengunjuk rasa itu. "Masalah imigrasi merupakan induk dari seluruh masalah politik di negara ini. Saya sudah menuturkan hal itu selama tiga tahun," mulai sejak Merkel membuka perbatasan Jerman kepada lebih dari satu juta pencari suaka sementara negara Uni Eropa lain telah menutup wilayah mereka.

Pernyataan ini sejalan dengan Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini bahwa Merkel "menganggap enteng" masalah yang bisa ditimbulkan oleh imigrasi masal. Partai Seehofer, Serikat Sosial Kristen (CSU), akan mengikuti pemilihan umum di negara bagian Bavaria bulan depan. Pemilu ini diperkirakan akan berlangsung ketat.

CSU berjuang untuk mengatasi tantangan kuat dari partai ekstrim kanan AfD dan mempertahankan mayoritas absolut sehingga Seehofer pun membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan pandangan Merkel soal insiden di Chemnitz. Seehofer dikutip oleh media Jerman pada Rabu (5/9) malam bahwa pemerintah Merkel terlalu cepat mengkritik aksi protes itu dan dia berniat menunggu "Informasi otentik" sebelum membuat pernyataan.

Pada Rabu itu juga, dalam pidato di parlemen daerah menteri utama negara bagian Saxony Michael Kretschmer menyangkal kaum ekstrimis berbuat semena-mena di Chemnitz. "Tidak ada gerombolan, tidak ada aksi mencari warga asing dan tidak ada pembunuhan berencana," ujarnya yang membuat dia dituduh mengecilkan permasalahan ekstrim kanan di daerahnya.

Merkel berulang kali menyatakan rasa terkejutnya atas situasi kacau di kota itu yang terekam kamera video dan diceritakan oleh sejumlah korban kepada media. Dia mengaskan bahwa, "gambar yang saya lihat dengan jelas memperlihatkan aksi pengejaran dan persekusi berlatar belakang kebencian terhadap warga tak bersalah." Masalah imigrasi menyebabkan perpecahan di seluruh wilayah Jerman dan memperlemah posisi Merkel yang telah 13 tahun memimpin Jerman.

Banyak pengamat mengatakan masa jabatan keempatnya sekarang akan menjadi yang terakhir. Meski pendatang baru jauh lebih kecil dari periode 2015-2016, Merkel terpaksa membuat konsesi besar untuk Seehofer pada Juli lalu untuk mengatasi pemberontakannya. Konsesi itu adalah membuat kesepakatan bilateral dengan negara anggota Uni Eropa untuk menerima kembali pencari suaka yang datang ke Jerman belakangan.

Meski posisi lawan Merkel diperkuat dengan serangkaian kejahatan yang dituduh dilakukan oleh imigran, kubu pembela kebijakan imigrasi kanselir ini pun terus menguat. Sekitar 65 ribu orang menghadiri konser musik rok anti-rasisme di Chemnitz pada Senin (3/9) dan acara itu berlangsung tanpa insiden. Pada Rabu malam sekitar 10 ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan di Hamburg untuk melawan aksi protes "Merkel harus mundur" yang hanya diikuti oleh 150 orang.