BREAKINGNEWS.CO.ID – Seorang pejabat di Nigeria mengatakan kalau lembaga darurat Nigeria sudah menempatkan semua unit reaksi bencana di seluruh negeri tersebut dalam siaga merah dikarenakan naiknya permukaan air, Jumat (14/9/2018).

Permukaan air di seluruh sungai di negeri itu sudah terus naik akibat hujan deras, kata Mustapha Maihaja, Direktur Jenderal Badan Penanganan Kondisi Darurat Nasional (NEMA). Ia menuturkan NEMA telah mengidentifikasi 12 negara garis depan yang mungkin rentan terhadap banjir tahun 2018 ini, demikian laporan Xinhua. Ia menyatakan banjir dapat terjadi sewaktu-waktu di negara bagian itu.

Sementara itu, polisi di Adamawa di bagian timur-laut negeri tersebut sudah menyarankan masyarakat yang tinggal di aliran sungai di negara bagian itu agar pindah sebelum Sabtu untuk menghindari banjir yang mungkin terjadi. Habibu Musa, seorang Juru Bicara Polisi, menuturkan seruan tersebut menjadi perlu dikarenakan negara tetangga Nigeria, Kamerun, akan mengalirkan air yang berlebihan dari Bendungan Lagdo.

Ia mendesak masyarakat yang terpengaruh agar bekerja sama dengan personel keamanan dan pekerja darurat lain sementara mereka pindah ke daerah yang lebih aman. Banjir telah menewaskan lebih dari 10 orang dan membuat banyak orang lagi mengungsi di negara bagian tersebut, setelah hujan lebat beberapa waktu terakhir. Banyak hewan peliharaan, termasuk lembu, juga hilang akibat banjir.

Banjir Pengaruhi Panen 

Banjir di banyak wilayah Nigeria dapat mengakibatkan buruknya produksi tanaman dan panen pada 2017, demikian pernyataan seorang pejabat senior di Badan Meteorologi Nigeria. Semakin banyak wilayah mudah ditembus banjir saat musim hujan berlanjut, kata Sani Mashi, Direktur Jenderal lembaga itu kepada wartawan di Abuja, Ibu Kota Nigeria, yang dikutip kantor berita Xinhua, Cina, Minggu (16/7).

Ia mengatakan, "Hanya beberapa tanaman dapat menerima datangnya air dalam jumlah berlimpah." Bahkan, menurut dia, sebagian tanaman musnah sama sekali saat terendam untuk waktu lama sebab tanaman itu bertahan hidup dengan bantuan sinar Matahari.

Badan Meteorologi juga membuat prakiraan bahwa udara panas mungkin melanda negeri itu pada akhir musim tanam, saat tak ada curah hujan, katanya. Mashi mengatakan badan tersebut telah memperingatkan bahwa kecenderungan cuaca baru-baru ini akan mengakibatkan perubahan besar dalam pola curah hujan di negeri itu.